BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Mengajar adalah suatu proses penyampaian ilmu
dari seorang pendidik kepada peserta didiknya.meskipun ada metode tertentu yang
menolong guru untuk membantu siswa dalam belajar dan bertingkah laku secara
bertanggung jawab. Namun keefektifan setiap metode dipengaruhi oleh tujuan
pendidik, siswa, komunitas tempat dimana pendidik mengajar, dan seterusnya.
Guru yang efektif adalah praktisi yang secara konstan menganalisis pengaruh
perilaku peserta didiknya dan materi-materi yang digunakan dalam pembelajaran.
Ini merupakan tanggung jawab kita sebagai seorang pendidik yang profesional
untuk mengimplementasikan metode untuk pemahaman. Selain itu, sebagai seorang
pendidik harus memberi fasilitas yang nyaman bagi peserta didik, mengamankan
kondisi kelas yang terjadi kerisuhan.
Berdasarkan jejak pendapat Phi Delta Kappa
tentang sikap publik terhadap sekolah disiplin menempati kedua dari kepedulian
terbesar publik terhadap pendidikan. Isu perkelahian berada di urutan keempat.
Meskipun bulliying dan keamanan terus menjadi isu utama di sekolah.
Indicator Of School Crime And Safety tahun 2007 melaporkan hal yang berkaitan
dengan kejadian yang terjadi paling sedikit sekali dalam seminggu, 18 persen
kepala sekolah melaporkan tindakan siswa yang tidak respek terhadap guru, 90
persen kepala sekolah melaporkan kekerasan verbal dari guru, dan 2 persen
melaporkan gangguan ruang kelas yang meluas.
Bulliying atau pelecehan
antar siswa adalah masalah serius di sekolah. Menurut survei yang dilakukan
oleh National Institut Of Child Health And Human Development, setiap anak
disekolah tidak dengan yang namanya bulliying. Laporan bulliying ini
sama untuk anak laki-laki dan perempuan meskipun hampir dua kali lebih banyak
anak laki-laki yang mengalami luka fisik karena bulliying. Selanjutnya
bagaimana mengatasi problem serius dalam hal tersebut, makalah kami akan
menjawab bagaimana mengatasi problem serius tersebut.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana tahapan
yang ada dalam manajemen kelas?
2.
Apa saja
masalah yang terjadi dalam kelas?
3.
Apa masalah
yang butuh perhatian khusus?
4.
Bagaimana cara
mengatasi masalah tersebut?
C.
Tujuan masalah
1.
Untuk
mengetahui tahapan yang ada dalam manajemen kelas.
2.
Untuk
mengetahui masalah yang terjadi dalam kelas.
3.
Untuk
mengetahui masalah yang butuh perhatian khusus.
4.
Untuk
mengetahui cara mengatasi masalah tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tahapan-Tahapan Proses Manajemen Kelas
Manajemen kelas adalah sebuah proses yang terdiri dari
serangkaian aktivitas yang digunakan guru sebagai sarana untuk membentuk dan
mempertahankan kondisi yang memfasilitasi pembelajaran yang efektif dan
efisien. Pada bagian ini akan diperluas dengan memberikan sebuah deskripsi dari
manajemen kelas sebagai sebuah proses pluralistik-analitis di mana guru
menetapkan kondisi – kondisi kelas yang diharapkan, menganalisa kondisi-kondisi
kelas yang ada, memilih dan menggunakan strategi – strategi manajerial, dan
menilai efektifitas manajerial. Terdapat beberapa tahapan dalam proses
manajemen kelas, yaitu:
1. Menetapkan
Kondisi-Kondisi Kelas yang Diharapkan
Proses manajemen kelas memiliki maksud bahwa guru
menggunakan berbagai strategi manajerial untuk mencapai sebuah tujuan yang
ditetapkan secara jelas dan didefinisikan dengan baik, yakni penciptaan dan
pemeliharaan kondisi – kondisi kelas tertentu yang dirasa guru akan
memfasilitasi pembelajaran yang efektif dan efisien bersama dengan para
siswanya.[1]
Konsekuensinya, langkah pertama dalam proses manajemen kelas yang efektif
adalah penentuan kondisi – kondisi yang diidamkan oleh guru – penentuan kondisi
– kondisi ”ideal”. Secara jelas guru harus mengembangkan sebuah konsep yang
dapat diterapkan tentang kondisi – kondisi yang dia percayai akan memungkinkan
dia mengajar secara efektif. Dalam melakukan hal tersebut, guru harus memahami
bahwa kondisi – kondisi yang diidentifikasi sebagai kondisi yang diharapkan
akan menggambarkan filosofi pribadinya. Selain itu, guru harus mengenali
kebutuhan untuk menilai secara berkelanjutan kegunaan konsep – konsepnya dan
untuk memodifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi.
2. Menganalisa
Kondisi-Kondisi Kelas Yang Ada
Setelah menentukan kondisi-kondisi kelas yang
diinginkan, guru selanjutnya menganalisa kondisi-kondisi kelas yang ada untuk
membandingkan situasi nyata dengan situasi ideal. Analisis semacam ini
memungkinkan guru untuk mengidentifikasi ketidak sesuaian antara kondisi yang
ada dengan kondisi yang diinginkan, kondisi mana yang memerlukan perhatian
belakangan, kondisi mana yang membutuhkan pemantauan, kondisi – kondisi yang
ada yang harus dipertahankan, didorong, dan diteruskan karena kondisi itu
sesuai dengan yang diinginkan.[2] Jadi,
tahap dari proses tersebut didasarkan pada asumsi bahwa guru yang efektif
adalah guru yang ahli dalam menganalisa interaksi kelas dan terutama cepat
tanggap terhadap apa yang terjadi di kelasnya : yaitu guru yang memiliki
pemahaman yang cermat terhadap apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh
para siswanya serta apa yang cenderung dilakukan oleh mereka. Dia sepenuhnya
sadar akan ”apa yang terjadi”.
B. Mengidentifikasi
Masalah-Masalah Yang Terjadi Dalam Kelas
Guru menganalisa kondisi-kondisi kelas yang ada.
Setelah mengidentifikasi kondisi kelas yang dia rasa sesuai dengan yang
diinginkan, guru berusaha untuk menentukan sejauh mana kondisi itu hadir.
Argumentasi yang dipakai di sini adalah bahwa guru yang efektif adalah guru
yang mampu secara akurat menganalisa kondisi-kondisi kelas berdasarkan apa yang
sedang terjadi, atau dengan kata lain guru yang efektif adalah guru yang setiap
waktu mengetahui apa yang terjadi di dalam kelasnya. Kadang-kadang masalah yang
muncul kompleks dan membutuhkan analisa yang hati-hati. Tujuan dari bagian ini
adalah memberi anda beberapa panduan yang mungkin bermanfaat pada saat anda
menganalisa kondisi kelas. Masalah-Masalah Instruksional dan Manajerial pada
umumnya, masalah-masalah instruksional memerlukan penyelesaian instruksional
dan masalah-masalah manajerial membutuhkan penyelesaian manajerial. Oleh karena
itu, langkah penting pertama dalam menganalisis masalah-masalah yang terjadi di
dalam kelas adalah harus membedakan antara masalah-masalah instruksional dan
masalah-masalah manajerial. Istilah manajerial digunakan secara luas. Masalah
manajerial adalah berbagai keadaan di mana terdapat ketidaksesuaian antara
kondisi yang diharapkan dengan kondisi yang ada berbagai keadaan di mana sebuah
tujuan manajerial tidak tercapai. Selain itu, masalah – masalah manajerial juga
meliputi: (1) masalah-masalah potensial, keadaan di mana ketidak sesuaian
antara kondisi yang diharapkan dengan kondisi yang ada mungkin muncul jika guru
gagal melakukan pencegahan, (2) kondisi yang diinginkan, kondisi-kondisi di
mana tidak ada ketidaksesuaian antara yang diharapkan dengan kondisi yang ada.
Bila guru telah mengidentifikasi masalah manajerial, berikutnya dia harus
mengidentifikasi tujuan-tujuan manajerial yang tidak tercapai. Proses ini
memerlukan kemampuan guru dalam membedakan antara masalah instruksional dan
masalah manajerial.
Berikut ini contoh masalah instruksional dan masalah
manajerial yang mungkin akan anda temui di kelas.
a. Masalah
instruksional.
Johnny, murid kelas enam yang memiliki kemampuan rendah.
Nilai akademisnya buruk; misalnya, dalam membaca dia dua tahun di bawah
kemampuan yang seharusnya dan hampir satu tahun di bawah teman sebayanya.
Gurunya, Ny. Miller menyebut dia sebagai “ anak terburuk di kelasnya”
dikarenakan dia terus berperilaku tidak baik. Johnny menolak mengerjakan tugas-tugasnya
sendiri dan sering mengganggu siswa lain di kelas pada saat temannya tersebut
sedang mengerjakan tugasnya masing-masing. Mrs. Miller merasa bahwa anak itu
mampu mengerjakan pekerjaan yang sama seperti yang dilakukan anak-anak lain
andai kata dia mau mempergunakan kemampuannya.
b. Masalah
manajerial.
Meskipun dia sudah delapan minggu sejak dia pindah
dari sekolah lain, Barbara masih “anak baru di kelas”. Dia pindah pada
pertengahan tahun ketika keluarganya pindak ke kota ini, akan tetapi dia belum
menjadi anggota yang diterima di kelasnya. Dia kelihatan malu malu dan menarik
diri dari pergaulan. Gurunya, Mr. Johnson telah membuat sejumlah upaya untuk
membawanya “keluar dari rumah kerangnya”. Mr. Johnson membentuk kelompok-kelompok
kecil untuk mengerjakan proyek studi sosial, dan menempatkan Barbara dengan
sebuah kelompok yang terdiri dari tiga orang anak wanita yang ramah tamah.
C. Masalah-Masalah
yang Memerlukan Perhatian dan Masalah-Masalah yang Memerlukan Pemantauan
Masalah-masalah manajerial yang memerlukan perhatian
segera menghadirkan bahaya fisik atau psikologi atau bahaya potensial yang
serius bagi siswa. Situasi ini menuntut guru untuk bertindak cepat. Ada situasi
– situasi lain di mana guru merasa perlu bertindak cepat sehingga masalah yang
relatif kecil tidak menjadi lebih serius. Sebuah perkelahian yang melibatkan
dua siswa mewakili sebuah contoh tipe masalah yang memerlukan perhatian. Jadi guru
dalam hal ini perlu bertindak cepat mengatasi masalah ini untuk meminimalisir
bahaya fisik yang serius. Sebuah contoh di mana seorang siswa mengolok – olok
siswa lain yang cenderung bereaksi secara kasar bila diprovokasi adalah contoh
tipe masalah yang memerlukan pemantauan, sebuah situasi di mana guru bergerak
cepat untuk mencegah bahaya kecil menjadi bahaya besar. Di sini guru harus
mengambil tindakan segera untuk mencegah kemungkinan reaksi yang kasar dari
anak yang diejek itu. Sayangnya, batasan – batasan pasti yang dapat digunakan
oleh guru untuk menentukan apakah situasi – situasi tertentu memerlukan
perhatian khusus atau tidak. Walaupun perlu adanya upaya menjaga sesuatu agar
jangan sampai tidak terkendali, namun perlu juga untuk menahan diri untuk tidak
bertindak berlebihan terhadap masalah kecil yang mungkin akan hilang dengan
sendirinya. Kemampuan untuk membuat penilaian yang tepat tentang hal ini
memerlukan pengalaman. Berdasarkan pengalaman, lebih baik bertindak cepat dari
pada tidak. Dosa karena kelalaian cenderung berakibat lebih serius dari pada
dosa karena kepedulian.
Meskipun
tujuan bagian ini untuk mendiskusikan proses analisis, namun pada tempatnya
kiranya untuk berbicara lebih jauh tentang situasi – situasi yang memerlukan
tindakan segera. Sebab situasi semacam ini memberi sedikit waktu pada guru
untuk memikirkan strategi yang dia akan gunakan sehubungan dengan masalah
tersebut sebab situasi seperti itu menimbulkan respons emosional yang kuat,
yang cenderung mengakibatkan guru tidak efektif dalam menanganinya. Ada dua
saran dalam mengatasi situasi semacam itu. Pertama, guru seharusnya
mengembangkan perbendaharaan strategi “ yang sudah dikemas sebelumnya” yang dia
bisa pakai pada saat berhadapan dengan situasi – situasi semacam itu. guru harus
mencoba mengantisipasi masalah yang serius yang mungkin dia hadapi di sekolah,
dan membuat peta strategi yang dia akan gunakan jika masalah semacam itu
terjadi. Misalnya, guru harus mengantisipasi siswa yang terlibat dalam
perkelahian. Kedua, bila dihadapkan dengan sebuah situasi yang dirasakan dia
perlu bertindak dengan cepat, guru seharusnya melakukan apa saja yang dapat
dilakukan untuk memberi waktu berfikir. Misalnya, seorang guru yang berusaha
untuk melerai dua orang siswa yang sedang berkelahi mungkin akan memberi waktu
kepada guru dengan memisahkan mereka ke sudut yang berlawanan dalam ruangan
itu, dengan instruksi bahwa masing – masing siswa yang berkelahi tersebut
menuliskan tentang apa yang telah terjadi. Ini akan memberi waktu kepada guru
untuk mengumpulkan pemikirannya, merencanakan langkah berikutnya yang harus
diambil, dan meredakan emosi guru dan siswa.
Tidak semua masalah manajerial memerlukan tindakan guru yang segera. Kebanyakan masalah sebenarnya memberi waktu kepada guru untuk mempertimbangkan berbagai tindakan. Masalah – masalah yang memerlukan perhatian, tetapi bukan yang memerlukan perhatian segera, memberi guru kesempatan untuk melakukan analisis yang cermat. Dia mampu untuk mendiagnosa masalah dengan lebih akurat dan lebih bijaksana memilih sebuah strategi yang sesuai dengan masalah itu. Misalnya, guru yang mendapati bahwa seorang anggota kelasnya tidak diterima oleh anggota kelas yang lain dihadapkan dengan masalah manajerial yang harus diselesaikan. Guru harus membantu siswa itu agar menjadi seorang anggota yang diterima di kelompok kelas, dan harus membantu kelompok untuk menerima siswa itu sebagai anggota kelompok. Selama beberapa hari, guru mungkin secara teliti mengamati dinamika yang kelihatan menghambat penerimaan siswa itu oleh teman – temannya. Setelah mengidentifikasi faktor – faktor dan strategi manajerial yang dia yakini akan mendorong penerimaan, guru menjalankan strategi yang memiliki potensi terbaik untuk menyelesaikan masalah itu.[3]
Tidak semua masalah manajerial memerlukan tindakan guru yang segera. Kebanyakan masalah sebenarnya memberi waktu kepada guru untuk mempertimbangkan berbagai tindakan. Masalah – masalah yang memerlukan perhatian, tetapi bukan yang memerlukan perhatian segera, memberi guru kesempatan untuk melakukan analisis yang cermat. Dia mampu untuk mendiagnosa masalah dengan lebih akurat dan lebih bijaksana memilih sebuah strategi yang sesuai dengan masalah itu. Misalnya, guru yang mendapati bahwa seorang anggota kelasnya tidak diterima oleh anggota kelas yang lain dihadapkan dengan masalah manajerial yang harus diselesaikan. Guru harus membantu siswa itu agar menjadi seorang anggota yang diterima di kelompok kelas, dan harus membantu kelompok untuk menerima siswa itu sebagai anggota kelompok. Selama beberapa hari, guru mungkin secara teliti mengamati dinamika yang kelihatan menghambat penerimaan siswa itu oleh teman – temannya. Setelah mengidentifikasi faktor – faktor dan strategi manajerial yang dia yakini akan mendorong penerimaan, guru menjalankan strategi yang memiliki potensi terbaik untuk menyelesaikan masalah itu.[3]
Implementasi
strategi itu berlangsung sekitar dua bulan, selama jangka waktu itu guru
memonitor pengaruh intervensinya. Sekitar sepuluh minggu sejak masalah itu
ditemukan guru memastikan bahwa upayanya berhasil.
Kita telah melihat bahwa sebuah analisis terhadap kondisi – kondisi kelas yang ada dapat mengungkap masalah yang memerlukan perhatian segera dan perhatian kemudian.selain itu juga dapat mengungkap masalah – masalah berupa ketidaksesuaian antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diinginkan. Guru tidak perlu melakukan intervensi terhadap masalah – masalah yang tidak mengganggu proses pembelajaran dan kelihatan tidak serius. Guru menentukan bahwa kesalahan tingkah laku yang kecil tidak mengganggu guru dan siswa dan oleh karenanya memilih untuk tidak mengambil tindakan untuk mengubah perilaku siswa itu. Namun guru tetap harus memonitor perilaku siswa tersebut. Bila perilaku itu mengarah kepada perilaku yang mengganggu maka guru harus mulai melakukan intervensi. Jadi, keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan adalah sebuah keputusan yang membutuhkan penilaian. Guru yang cepat tanggap terhadap dinamika kelas lebih cenderung membuat keputusan yang benar. Guru yang efektif adalah guru yang mengetahui kapan intervensi akan bermanfaat dan kapan intervensi itu tidak bermanfaat.begitu pula, manajer kelas yang efektif tahu kapan bergerak cepat mengenai masalah dan kapan harus bergerak lambat.
Kita telah melihat bahwa sebuah analisis terhadap kondisi – kondisi kelas yang ada dapat mengungkap masalah yang memerlukan perhatian segera dan perhatian kemudian.selain itu juga dapat mengungkap masalah – masalah berupa ketidaksesuaian antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diinginkan. Guru tidak perlu melakukan intervensi terhadap masalah – masalah yang tidak mengganggu proses pembelajaran dan kelihatan tidak serius. Guru menentukan bahwa kesalahan tingkah laku yang kecil tidak mengganggu guru dan siswa dan oleh karenanya memilih untuk tidak mengambil tindakan untuk mengubah perilaku siswa itu. Namun guru tetap harus memonitor perilaku siswa tersebut. Bila perilaku itu mengarah kepada perilaku yang mengganggu maka guru harus mulai melakukan intervensi. Jadi, keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan adalah sebuah keputusan yang membutuhkan penilaian. Guru yang cepat tanggap terhadap dinamika kelas lebih cenderung membuat keputusan yang benar. Guru yang efektif adalah guru yang mengetahui kapan intervensi akan bermanfaat dan kapan intervensi itu tidak bermanfaat.begitu pula, manajer kelas yang efektif tahu kapan bergerak cepat mengenai masalah dan kapan harus bergerak lambat.
D. Model Pemecahan
Masalah Dengan Individu Siswa
Ada beberapa jenis penyelesaian masalah pendekatan
yang paling sering digunakan untuk pemecahan masalah adalah beberapa bentuk
dari “terapi realitas” dari William Glasser, diantaranya sebagai berikut:[4]
Langkah 1: Menjalin hubungan personal yang hangat dengan siswa
Dengan adanya hubungan yang hangat dengan siswa, siswa
akan merasa bahwa guru yang selalu bersamanya peduli dan akan nyaris selalu
bersedia bekerja dengan anda untuk memeriksa dan berusaha mengubah perilaku
mereka.
Langkah 2: Menghadapi perilaku yang ada
Langkah kedua ini meminta siswa untuk mendeskripsikan
perilaku. Kesadaran terhadap suatu perbuatan merupakan komponen penting dalam
program perubahan perilaku manapun. Peningkatan kesadaran siswa terhdap
perilaku mereka sering disertai dengan perubahan besar dalam perilaku mereka.
Seorang guru dapat membantu siswa untuk mendeskripsikan perilaku mereka dengan
bertanya seperti: “Apa yang kamu lakukan sehingga membuat temanmu terganggu?”. Jika
siswa mengemukakan bahwa ia jahat atau tidak mematuhi peraturan yang ada, bantu
anak mengkhususkan apa yang ia maksud dengan tidak patuh dan apa yang ia
katakan.
Langkah 3: Membuat pertimbangan
Sesudah siswa mendeskripsikan perilaku, seorang guru
membantu siswa menentukan apakah perilaku itu diinginkan. Siswa tidak akan
memaknai mengubah perilaku kecuali mereka memutuskan bahwa perilaku itu harus
diubah. Pendekatan lain untuk membantu anak lain membuat pertimbangan nilai
adalah minta mereka mendaftar keuntngan dan kerugian dari perilaku mereka.
Langkah 4: Membuat rencana
Sesudah siswa memutuskan bahwa perilaku sungguh perlu
diubah, langkah selanjutnya adalah membantunya mengembangkan rencana untuk
membuat perubahan.
Langkah 5: Membuat suatu komitmen
Sesudah rencana diklarifikasi, siswa harus berkomitmen
terhadap rencana tersebut. Ini dapat dicapai dengan bertanya: “yakinkah kamu
ini dengan rencana yang bagus? Maukah kamu mencobanya?”
Langkah 6: Menindak lanjuti
Langkah keenam dan ketujuh mencakup tindak lanjut,
dalam menemukan solusi yang ampuh untuk suatu masalah, penting untuk merancang
waktu ketika kedua belah pihak akan bertemu mendiskusikan bagaimana rencana
tersebut bekerja. Langkah keenam memberikan kesempatan bagi guru untuk
memperkuat usaha siswa dan membahas masalah apapun yang mungkin muncul. Jika
guru berhasil menerapkan rencana, hargai usaha siswa.
Langkah 7: Tidak menjatuhkan, tapi tidak menerima alasan
Langkah terakhir dari Glasser berurusan dengan apa
yang harus dilakukan jika rencana tidak bekerja. Guru tidak boleh mengkritik
dan kasar. Asumsi utama yang mendasari penggunaan pendekatan pemecahan masalah
dalam lingkungan yang positif dan mendukung adalah siswa ingin bertanggung
jawab dan berperilaku sesuai. Oleh karena itu, guru harusmendukung siswa untuk
menjalankan rencananya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Guru yang efektif adalah praktisi yang secara
konstan menganalisis pengaruh perilaku peserta didiknya dengan materi-materi
yang digunakan dalam pembelajaran. Sebagai seorang pendidik yang profesional,
yaitu untuk mengimplementasikan metode untuk pemahaman. Selain itu, sebagai
seorang pendidik harus memberi fasilitas yang nyaman bagi peserta didik,
mengamankan kondisi kelas yang terjadi kerisuhan.
langkah penting
pertama dalam menganalisis masalah-masalah yang terjadi di dalam kelas adalah
harus membedakan antara masalah-masalah instruksional dan masalah-masalah
manajerial. Masalah manajerial adalah berbagai keadaan di mana terdapat
ketidaksesuaian antara kondisi yang diharapkan dengan kondisi yang ada berbagai
keadaan di mana sebuah tujuan manajerial tidak tercapai. Masalah-masalah
manajerial yang memerlukan perhatian segera menghadirkan bahaya fisik atau
psikologi atau bahaya potensial yang serius bagi siswa.
Dalam memecahkan
sebuah masalah ada beberapa jenis, salah satunya dari “terapi realitas” dari
William Glasser. Ia menjadikan tujuh langkah dalam memecahkan masalah, yaitu:
Menjalin hubungan personal yang hangat dengan siswa, menghadapi perilaku yang
ada, membuat pertimbangan, Membuat rencana, Membuat suatu komitmen, menindak
lanjuti, tidak menjatuhkan dan tidak menerima alasan.
B. Kritik dan Saran
Kami
menyadari sepenuhnya masih ada banyak kesalahan dan kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena
itu, kami mohon maaf, dan kami mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak
terutama Dosen pengampu untuk perbaikan makalah kami di kemudian hari. Atas
perhatian dan kerja
samanya di sampaikan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen
Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Gordon, Thomas. 1990. Guru
Yang Efektif: Cara Untuk Mengatasi Kesulitan Dalam Belajar. Jakarta:
Rajawali.
Jones,
Vern, Louise Jones. 2012. Manajemen Kelas Komprehensif. Jakarta: Kencana.
Nasution. 2005. Berbagai Pendekatan dalam Proses
Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
[1] Prof.Dr. Nasution, Berbagai Pendekatan
dalam Proses Belajar Mengajar,( Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal 12
[2] Suharsimi
Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi,( Jakarta: PT Rineka
Cipta, 1990), hal 25.
[3] Thomas Gordon, Guru
Yang Efektif: Cara Untuk Mengatasi Kesulitan Dalam Belajar (Jakarta:
Rajawali, 1990), hal. 20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar