Jumat, 07 September 2018

MAKALAH PROSES MANAJEMEN KELAS


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Mengajar adalah suatu proses penyampaian ilmu dari seorang pendidik kepada peserta didiknya.meskipun ada metode tertentu yang menolong guru untuk membantu siswa dalam belajar dan bertingkah laku secara bertanggung jawab. Namun keefektifan setiap metode dipengaruhi oleh tujuan pendidik, siswa, komunitas tempat dimana pendidik mengajar, dan seterusnya. Guru yang efektif adalah praktisi yang secara konstan menganalisis pengaruh perilaku peserta didiknya dan materi-materi yang digunakan dalam pembelajaran. Ini merupakan tanggung jawab kita sebagai seorang pendidik yang profesional untuk mengimplementasikan metode untuk pemahaman. Selain itu, sebagai seorang pendidik harus memberi fasilitas yang nyaman bagi peserta didik, mengamankan kondisi kelas yang terjadi kerisuhan.
Berdasarkan jejak pendapat Phi Delta Kappa tentang sikap publik terhadap sekolah disiplin menempati kedua dari kepedulian terbesar publik terhadap pendidikan. Isu perkelahian berada di urutan keempat. Meskipun bulliying dan keamanan terus menjadi isu utama di sekolah. Indicator Of School Crime And Safety tahun 2007 melaporkan hal yang berkaitan dengan kejadian yang terjadi paling sedikit sekali dalam seminggu, 18 persen kepala sekolah melaporkan tindakan siswa yang tidak respek terhadap guru, 90 persen kepala sekolah melaporkan kekerasan verbal dari guru, dan 2 persen melaporkan gangguan ruang kelas yang meluas.
Bulliying atau pelecehan antar siswa adalah masalah serius di sekolah. Menurut survei yang dilakukan oleh National Institut Of Child Health And Human Development, setiap anak disekolah tidak dengan yang namanya bulliying. Laporan bulliying ini sama untuk anak laki-laki dan perempuan meskipun hampir dua kali lebih banyak anak laki-laki yang mengalami luka fisik karena bulliying. Selanjutnya bagaimana mengatasi problem serius dalam hal tersebut, makalah kami akan menjawab bagaimana mengatasi problem serius tersebut.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana tahapan yang ada dalam manajemen kelas?
2.      Apa saja masalah yang terjadi dalam kelas?
3.      Apa masalah yang butuh perhatian khusus?
4.      Bagaimana cara mengatasi masalah tersebut?

C.    Tujuan masalah
1.      Untuk mengetahui tahapan yang ada dalam manajemen kelas.
2.      Untuk mengetahui masalah yang terjadi dalam kelas.
3.      Untuk mengetahui masalah yang butuh perhatian khusus.
4.      Untuk mengetahui cara mengatasi masalah tersebut.
  


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tahapan-Tahapan Proses Manajemen Kelas
Manajemen kelas adalah sebuah proses yang terdiri dari serangkaian aktivitas yang digunakan guru sebagai sarana untuk membentuk dan mempertahankan kondisi yang memfasilitasi pembelajaran yang efektif dan efisien. Pada bagian ini akan diperluas dengan memberikan sebuah deskripsi dari manajemen kelas sebagai sebuah proses pluralistik-analitis di mana guru menetapkan kondisi – kondisi kelas yang diharapkan, menganalisa kondisi-kondisi kelas yang ada, memilih dan menggunakan strategi – strategi manajerial, dan menilai efektifitas manajerial. Terdapat beberapa tahapan dalam proses manajemen kelas, yaitu:
1.      Menetapkan Kondisi-Kondisi Kelas yang Diharapkan
Proses manajemen kelas memiliki maksud bahwa guru menggunakan berbagai strategi manajerial untuk mencapai sebuah tujuan yang ditetapkan secara jelas dan didefinisikan dengan baik, yakni penciptaan dan pemeliharaan kondisi – kondisi kelas tertentu yang dirasa guru akan memfasilitasi pembelajaran yang efektif dan efisien bersama dengan para siswanya.[1] Konsekuensinya, langkah pertama dalam proses manajemen kelas yang efektif adalah penentuan kondisi – kondisi yang diidamkan oleh guru – penentuan kondisi – kondisi ”ideal”. Secara jelas guru harus mengembangkan sebuah konsep yang dapat diterapkan tentang kondisi – kondisi yang dia percayai akan memungkinkan dia mengajar secara efektif. Dalam melakukan hal tersebut, guru harus memahami bahwa kondisi – kondisi yang diidentifikasi sebagai kondisi yang diharapkan akan menggambarkan filosofi pribadinya. Selain itu, guru harus mengenali kebutuhan untuk menilai secara berkelanjutan kegunaan konsep – konsepnya dan untuk memodifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi.
  
2.      Menganalisa Kondisi-Kondisi Kelas Yang Ada
Setelah menentukan kondisi-kondisi kelas yang diinginkan, guru selanjutnya menganalisa kondisi-kondisi kelas yang ada untuk membandingkan situasi nyata dengan situasi ideal. Analisis semacam ini memungkinkan guru untuk mengidentifikasi ketidak sesuaian antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diinginkan, kondisi mana yang memerlukan perhatian belakangan, kondisi mana yang membutuhkan pemantauan, kondisi – kondisi yang ada yang harus dipertahankan, didorong, dan diteruskan karena kondisi itu sesuai dengan yang diinginkan.[2] Jadi, tahap dari proses tersebut didasarkan pada asumsi bahwa guru yang efektif adalah guru yang ahli dalam menganalisa interaksi kelas dan terutama cepat tanggap terhadap apa yang terjadi di kelasnya : yaitu guru yang memiliki pemahaman yang cermat terhadap apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh para siswanya serta apa yang cenderung dilakukan oleh mereka. Dia sepenuhnya sadar akan ”apa yang terjadi”.

B.     Mengidentifikasi Masalah-Masalah Yang Terjadi Dalam Kelas
Guru menganalisa kondisi-kondisi kelas yang ada. Setelah mengidentifikasi kondisi kelas yang dia rasa sesuai dengan yang diinginkan, guru berusaha untuk menentukan sejauh mana kondisi itu hadir. Argumentasi yang dipakai di sini adalah bahwa guru yang efektif adalah guru yang mampu secara akurat menganalisa kondisi-kondisi kelas berdasarkan apa yang sedang terjadi, atau dengan kata lain guru yang efektif adalah guru yang setiap waktu mengetahui apa yang terjadi di dalam kelasnya. Kadang-kadang masalah yang muncul kompleks dan membutuhkan analisa yang hati-hati. Tujuan dari bagian ini adalah memberi anda beberapa panduan yang mungkin bermanfaat pada saat anda menganalisa kondisi kelas. Masalah-Masalah Instruksional dan Manajerial pada umumnya, masalah-masalah instruksional memerlukan penyelesaian instruksional dan masalah-masalah manajerial membutuhkan penyelesaian manajerial. Oleh karena itu, langkah penting pertama dalam menganalisis masalah-masalah yang terjadi di dalam kelas adalah harus membedakan antara masalah-masalah instruksional dan masalah-masalah manajerial. Istilah manajerial digunakan secara luas. Masalah manajerial adalah berbagai keadaan di mana terdapat ketidaksesuaian antara kondisi yang diharapkan dengan kondisi yang ada berbagai keadaan di mana sebuah tujuan manajerial tidak tercapai. Selain itu, masalah – masalah manajerial juga meliputi: (1) masalah-masalah potensial, keadaan di mana ketidak sesuaian antara kondisi yang diharapkan dengan kondisi yang ada mungkin muncul jika guru gagal melakukan pencegahan, (2) kondisi yang diinginkan, kondisi-kondisi di mana tidak ada ketidaksesuaian antara yang diharapkan dengan kondisi yang ada. Bila guru telah mengidentifikasi masalah manajerial, berikutnya dia harus mengidentifikasi tujuan-tujuan manajerial yang tidak tercapai. Proses ini memerlukan kemampuan guru dalam membedakan antara masalah instruksional dan masalah manajerial.
Berikut ini contoh masalah instruksional dan masalah manajerial yang mungkin akan anda temui di kelas.
a.       Masalah instruksional.
Johnny, murid kelas enam yang memiliki kemampuan rendah. Nilai akademisnya buruk; misalnya, dalam membaca dia dua tahun di bawah kemampuan yang seharusnya dan hampir satu tahun di bawah teman sebayanya. Gurunya, Ny. Miller menyebut dia sebagai “ anak terburuk di kelasnya” dikarenakan dia terus berperilaku tidak baik. Johnny menolak mengerjakan tugas-tugasnya sendiri dan sering mengganggu siswa lain di kelas pada saat temannya tersebut sedang mengerjakan tugasnya masing-masing. Mrs. Miller merasa bahwa anak itu mampu mengerjakan pekerjaan yang sama seperti yang dilakukan anak-anak lain andai kata dia mau mempergunakan kemampuannya.
b.      Masalah manajerial.
Meskipun dia sudah delapan minggu sejak dia pindah dari sekolah lain, Barbara masih “anak baru di kelas”. Dia pindah pada pertengahan tahun ketika keluarganya pindak ke kota ini, akan tetapi dia belum menjadi anggota yang diterima di kelasnya. Dia kelihatan malu malu dan menarik diri dari pergaulan. Gurunya, Mr. Johnson telah membuat sejumlah upaya untuk membawanya “keluar dari rumah kerangnya”. Mr. Johnson membentuk kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan proyek studi sosial, dan menempatkan Barbara dengan sebuah kelompok yang terdiri dari tiga orang anak wanita yang ramah tamah.

C.    Masalah-Masalah yang Memerlukan Perhatian dan Masalah-Masalah yang Memerlukan Pemantauan
Masalah-masalah manajerial yang memerlukan perhatian segera menghadirkan bahaya fisik atau psikologi atau bahaya potensial yang serius bagi siswa. Situasi ini menuntut guru untuk bertindak cepat. Ada situasi – situasi lain di mana guru merasa perlu bertindak cepat sehingga masalah yang relatif kecil tidak menjadi lebih serius. Sebuah perkelahian yang melibatkan dua siswa mewakili sebuah contoh tipe masalah yang memerlukan perhatian. Jadi guru dalam hal ini perlu bertindak cepat mengatasi masalah ini untuk meminimalisir bahaya fisik yang serius. Sebuah contoh di mana seorang siswa mengolok – olok siswa lain yang cenderung bereaksi secara kasar bila diprovokasi adalah contoh tipe masalah yang memerlukan pemantauan, sebuah situasi di mana guru bergerak cepat untuk mencegah bahaya kecil menjadi bahaya besar. Di sini guru harus mengambil tindakan segera untuk mencegah kemungkinan reaksi yang kasar dari anak yang diejek itu. Sayangnya, batasan – batasan pasti yang dapat digunakan oleh guru untuk menentukan apakah situasi – situasi tertentu memerlukan perhatian khusus atau tidak. Walaupun perlu adanya upaya menjaga sesuatu agar jangan sampai tidak terkendali, namun perlu juga untuk menahan diri untuk tidak bertindak berlebihan terhadap masalah kecil yang mungkin akan hilang dengan sendirinya. Kemampuan untuk membuat penilaian yang tepat tentang hal ini memerlukan pengalaman. Berdasarkan pengalaman, lebih baik bertindak cepat dari pada tidak. Dosa karena kelalaian cenderung berakibat lebih serius dari pada dosa karena kepedulian.
Meskipun tujuan bagian ini untuk mendiskusikan proses analisis, namun pada tempatnya kiranya untuk berbicara lebih jauh tentang situasi – situasi yang memerlukan tindakan segera. Sebab situasi semacam ini memberi sedikit waktu pada guru untuk memikirkan strategi yang dia akan gunakan sehubungan dengan masalah tersebut sebab situasi seperti itu menimbulkan respons emosional yang kuat, yang cenderung mengakibatkan guru tidak efektif dalam menanganinya. Ada dua saran dalam mengatasi situasi semacam itu. Pertama, guru seharusnya mengembangkan perbendaharaan strategi “ yang sudah dikemas sebelumnya” yang dia bisa pakai pada saat berhadapan dengan situasi – situasi semacam itu. guru harus mencoba mengantisipasi masalah yang serius yang mungkin dia hadapi di sekolah, dan membuat peta strategi yang dia akan gunakan jika masalah semacam itu terjadi. Misalnya, guru harus mengantisipasi siswa yang terlibat dalam perkelahian. Kedua, bila dihadapkan dengan sebuah situasi yang dirasakan dia perlu bertindak dengan cepat, guru seharusnya melakukan apa saja yang dapat dilakukan untuk memberi waktu berfikir. Misalnya, seorang guru yang berusaha untuk melerai dua orang siswa yang sedang berkelahi mungkin akan memberi waktu kepada guru dengan memisahkan mereka ke sudut yang berlawanan dalam ruangan itu, dengan instruksi bahwa masing – masing siswa yang berkelahi tersebut menuliskan tentang apa yang telah terjadi. Ini akan memberi waktu kepada guru untuk mengumpulkan pemikirannya, merencanakan langkah berikutnya yang harus diambil, dan meredakan emosi guru dan siswa.
Tidak semua masalah manajerial memerlukan tindakan guru yang segera. Kebanyakan masalah sebenarnya memberi waktu kepada guru untuk mempertimbangkan berbagai tindakan. Masalah – masalah yang memerlukan perhatian, tetapi bukan yang memerlukan perhatian segera, memberi guru kesempatan untuk melakukan analisis yang cermat. Dia mampu untuk mendiagnosa masalah dengan lebih akurat dan lebih bijaksana memilih sebuah strategi yang sesuai dengan masalah itu. Misalnya, guru yang mendapati bahwa seorang anggota kelasnya tidak diterima oleh anggota kelas yang lain dihadapkan dengan masalah manajerial yang harus diselesaikan. Guru harus membantu siswa itu agar menjadi seorang anggota yang diterima di kelompok kelas, dan harus membantu kelompok untuk menerima siswa itu sebagai anggota kelompok. Selama beberapa hari, guru mungkin secara teliti mengamati dinamika yang kelihatan menghambat penerimaan siswa itu oleh teman – temannya. Setelah mengidentifikasi faktor – faktor dan strategi manajerial yang dia yakini akan mendorong penerimaan, guru menjalankan strategi yang memiliki potensi terbaik untuk menyelesaikan masalah itu.[3]
Implementasi strategi itu berlangsung sekitar dua bulan, selama jangka waktu itu guru memonitor pengaruh intervensinya. Sekitar sepuluh minggu sejak masalah itu ditemukan guru memastikan bahwa upayanya berhasil.
Kita telah melihat bahwa sebuah analisis terhadap kondisi – kondisi kelas yang ada dapat mengungkap masalah yang memerlukan perhatian segera dan perhatian kemudian.selain itu juga dapat mengungkap masalah – masalah berupa ketidaksesuaian antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diinginkan. Guru tidak perlu melakukan intervensi terhadap masalah – masalah yang tidak mengganggu proses pembelajaran dan kelihatan tidak serius. Guru menentukan bahwa kesalahan tingkah laku yang kecil tidak mengganggu guru dan siswa dan oleh karenanya memilih untuk tidak mengambil tindakan untuk mengubah perilaku siswa itu. Namun guru tetap harus memonitor perilaku siswa tersebut. Bila perilaku itu mengarah kepada perilaku yang mengganggu maka guru harus mulai melakukan intervensi. Jadi, keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan adalah sebuah keputusan yang membutuhkan penilaian. Guru yang cepat tanggap terhadap dinamika kelas lebih cenderung membuat keputusan yang benar. Guru yang efektif adalah guru yang mengetahui kapan intervensi akan bermanfaat dan kapan intervensi itu tidak bermanfaat.begitu pula, manajer kelas yang efektif tahu kapan bergerak cepat mengenai masalah dan kapan harus bergerak lambat.
D.    Model Pemecahan Masalah Dengan Individu Siswa
Ada beberapa jenis penyelesaian masalah pendekatan yang paling sering digunakan untuk pemecahan masalah adalah beberapa bentuk dari “terapi realitas” dari William Glasser, diantaranya sebagai berikut:[4]
Langkah 1: Menjalin hubungan personal yang hangat dengan siswa
Dengan adanya hubungan yang hangat dengan siswa, siswa akan merasa bahwa guru yang selalu bersamanya peduli dan akan nyaris selalu bersedia bekerja dengan anda untuk memeriksa dan berusaha mengubah perilaku mereka.
Langkah 2: Menghadapi perilaku yang ada
Langkah kedua ini meminta siswa untuk mendeskripsikan perilaku. Kesadaran terhadap suatu perbuatan merupakan komponen penting dalam program perubahan perilaku manapun. Peningkatan kesadaran siswa terhdap perilaku mereka sering disertai dengan perubahan besar dalam perilaku mereka. Seorang guru dapat membantu siswa untuk mendeskripsikan perilaku mereka dengan bertanya seperti: “Apa yang kamu lakukan sehingga membuat temanmu terganggu?”. Jika siswa mengemukakan bahwa ia jahat atau tidak mematuhi peraturan yang ada, bantu anak mengkhususkan apa yang ia maksud dengan tidak patuh dan apa yang ia katakan.
Langkah 3: Membuat pertimbangan
Sesudah siswa mendeskripsikan perilaku, seorang guru membantu siswa menentukan apakah perilaku itu diinginkan. Siswa tidak akan memaknai mengubah perilaku kecuali mereka memutuskan bahwa perilaku itu harus diubah. Pendekatan lain untuk membantu anak lain membuat pertimbangan nilai adalah minta mereka mendaftar keuntngan dan kerugian dari perilaku mereka.
Langkah 4: Membuat rencana
Sesudah siswa memutuskan bahwa perilaku sungguh perlu diubah, langkah selanjutnya adalah membantunya mengembangkan rencana untuk membuat perubahan.
Langkah 5: Membuat suatu komitmen
Sesudah rencana diklarifikasi, siswa harus berkomitmen terhadap rencana tersebut. Ini dapat dicapai dengan bertanya: “yakinkah kamu ini dengan rencana yang bagus? Maukah kamu mencobanya?”
Langkah 6: Menindak lanjuti
Langkah keenam dan ketujuh mencakup tindak lanjut, dalam menemukan solusi yang ampuh untuk suatu masalah, penting untuk merancang waktu ketika kedua belah pihak akan bertemu mendiskusikan bagaimana rencana tersebut bekerja. Langkah keenam memberikan kesempatan bagi guru untuk memperkuat usaha siswa dan membahas masalah apapun yang mungkin muncul. Jika guru berhasil menerapkan rencana, hargai usaha siswa.
Langkah 7: Tidak menjatuhkan, tapi tidak menerima alasan
Langkah terakhir dari Glasser berurusan dengan apa yang harus dilakukan jika rencana tidak bekerja. Guru tidak boleh mengkritik dan kasar. Asumsi utama yang mendasari penggunaan pendekatan pemecahan masalah dalam lingkungan yang positif dan mendukung adalah siswa ingin bertanggung jawab dan berperilaku sesuai. Oleh karena itu, guru harusmendukung siswa untuk menjalankan rencananya.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Guru yang efektif adalah praktisi yang secara konstan menganalisis pengaruh perilaku peserta didiknya dengan materi-materi yang digunakan dalam pembelajaran. Sebagai seorang pendidik yang profesional, yaitu untuk mengimplementasikan metode untuk pemahaman. Selain itu, sebagai seorang pendidik harus memberi fasilitas yang nyaman bagi peserta didik, mengamankan kondisi kelas yang terjadi kerisuhan.
langkah penting pertama dalam menganalisis masalah-masalah yang terjadi di dalam kelas adalah harus membedakan antara masalah-masalah instruksional dan masalah-masalah manajerial. Masalah manajerial adalah berbagai keadaan di mana terdapat ketidaksesuaian antara kondisi yang diharapkan dengan kondisi yang ada berbagai keadaan di mana sebuah tujuan manajerial tidak tercapai. Masalah-masalah manajerial yang memerlukan perhatian segera menghadirkan bahaya fisik atau psikologi atau bahaya potensial yang serius bagi siswa.
Dalam memecahkan sebuah masalah ada beberapa jenis, salah satunya dari “terapi realitas” dari William Glasser. Ia menjadikan tujuh langkah dalam memecahkan masalah, yaitu: Menjalin hubungan personal yang hangat dengan siswa, menghadapi perilaku yang ada, membuat pertimbangan, Membuat rencana, Membuat suatu komitmen, menindak lanjuti, tidak menjatuhkan dan tidak menerima alasan.

B.     Kritik dan Saran
Kami menyadari sepenuhnya masih ada banyak kesalahan dan kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena itu, kami mohon maaf, dan kami mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak terutama Dosen pengampu untuk perbaikan makalah kami di kemudian hari. Atas perhatian dan kerja samanya di sampaikan terima kasih.




DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Gordon, Thomas. 1990. Guru Yang Efektif: Cara Untuk Mengatasi Kesulitan Dalam Belajar. Jakarta: Rajawali.
Jones, Vern, Louise Jones. 2012. Manajemen Kelas Komprehensif. Jakarta: Kencana.
Nasution. 2005. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.


[1] Prof.Dr. Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar,( Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal 12

[2]  Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi,( Jakarta: PT Rineka Cipta, 1990), hal 25.

[3] Thomas Gordon, Guru Yang Efektif: Cara Untuk Mengatasi Kesulitan Dalam Belajar (Jakarta: Rajawali, 1990), hal. 20
[4] Vern Jones, Louise Jones, Manajemen Kelas Komprehensif, (Jakarta: Kencana, 2012), hal. 360-367

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Link ujian UAMNU 2022

 LINK UJIAN UAMNU 2022 BAHASA JAWA https://forms.gle/eoCh9WnBhXy7Bgzm7 LINK UJIAN UAMNU 2022 BAHASA JEPANG https://forms.gle/ckVdrr2QVFF8Bi1...