Jumat, 07 September 2018

MAKALAH KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena itu kurikulum merupakan mencapai tujuan pendidian dan sekaligus sebagai sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
            Tujuan pendidikan disuatu bangsa atau negara ditentukan oleh falsalah dan pandangan hidup bangsa atau negara tersebut. Berbedanya falsafah dan pandangan hidup suatu bangsa dan negara menyebabkan berbeda pula tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan tersebut dan sekaligus akan berpengaruh pulaterhadap negara tersebut.
Dengan memahami kurikulum, para pendidik dapat memilih dan menentukan tujuan pembelajaran, metode, teknik, media pengajaran dan alat evaluasi pengajaran yang sesuai dan tepat. Untuk itu dalam melakukan kajian terhadap keberhasilan sistem pendidikan ditentukan oleh tujuan yang realistis, dapat diterima oleh semua pihak, sarana dan organisasi yang baik, intensitas pekerjaan yang realistis tinggi dan kurikulum yang tepat guna. Oleh karena itu sudah sewajarnya para pendidik dan tenaga kependidikan bidang pendidik islam memahami kurikulum serta berusaha mengembangkannya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian kurikulum pendidikan Islam?
2.      Apa saja fungsi kurikulum pendidikan Islam?
3.      Apa saja dasar-dasar  kurikulum pendidikan Islam?
4.      Bagaiman ciri-ciri  kurikulum pendidikan Islam?
5.      Bagaimana konsep kurikulum  pendidikan Islam?
6.      Apa saja komponen kurikulum pendidikan Islam?
7.      Bagaimana klasifikasi ilmu dalam kurikulum pendidikan Islam?
8.      Bagaiman pengembangan kurikulum pendidikan Islam?
9.      Bagaimana cara mendesain kurikulum pendidikan Islam?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian kurikulum pendidikan Islam.
2.      Untuk mengetahui fungsi kurikulum pendidikan Islam.
3.      Untuk mengetahui dasar-dasar  kurikulum pendidikan Islam.
4.      Untuk mengetahui ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam.
5.      Untuk mengetahui konsep kurikulum pendidikan Islam.
6.      Untuk mengetahui komponen kurikulum pendidikan Islam.
7.      Untuk mengetahui klasifikasi ilmu dalam kurikulum pendidikan Islam.
8.      Untuk mengetahui pengembangan kurikulum pendidikan Islam.
9.      Untuk mengetahui cara mendesain kurikulum pendidikan Islam.
   
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai pendidikan tertentu. Secara etimologi, kurikulum berasal dari Bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari atau curee yang berarti tempat berpacu.
Dalam konteks pendidikan , kurikulum memiliki pengertian sebagai circle instrumentation, yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya.
Dalam Bahasa Arab, kata kurikulum bias diungkapkan dengan kata minhaj yang berarti jalan terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan. Arti minhaj dalam pendidikan Islam berarti seperangkat media dan perencanaan yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.
Adapun pengertian kurikulum secara luas dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu:[1]
1.      Pengertian Kurikulum Secara Tradisional
Kurikulum adalah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah atau bidang studi.
2.      Pengertian Kurikulum Secara Modern
Kurikulum adalah semua pengalaman aktual yang dimiliki peserta didik di bawah pengaruh sekolah, sedang bidang studi adalah bagian kecil dari progam kurikulum secara keseluruhan.
3.      Pengertian Kurikulum Masa Kini
Kurikulum adalah strategi yang digunakan untuk mengadaptasikan pewarisan kultural dalam mencapai tujuan sekolah.
Pengertian kurikulum pendidikan agama Islam sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kurikulum secara umum, perbedaan hanya terletak pada sumber pelajarannya saja.  Sebagaimana  yang  diutarakan  oleh  Abdul  Majid  dalam  bukunya  Pembelajaran Agama Islam   Berbasis   Kompetensi,   mengatakan   bahwa   kurikulum   Pendidikan Agama Islam adalah rumusan tentang tujuan, materi, metode dan evaluasi pendidikan dan evaluasi pendidikan yang bersumber pada ajaran agama Islam.
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik   untuk   mcengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani  ajaran  Islam,  dibarengi  dengan  tuntunan  untuk  menghormati  penganut agama  lain  dalam  hubungannya  dengan  kerukunan  antar  umat  beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
Menurut Zakiyah Daradjat pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina  dan  mengasuh  peserta  didik  agar  senantiasa  dapat  memahami  ajaran  Islam secara menyeluruh.

B.     Fungsi Kurikulum Pendidikan Islam
1.      Kurikulum sebagai progam studi, yaitu seperangkat mata pelajaran yang mampu dipelajari oleh peserta didik di sekolah.
2.      Kurikulum sebagai content, yaitu memuat sejumlah data atau informasi yang tertera dalam buku teks atau informasi lainnya yang memungkinkan timbulnya proses pembelajaran.
3.      Kurikulum sebagai kegiatan berencana, yaitu memuatan kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal tersebut dapat diajarkan secara efektif dan efisien.
4.      Kurikulum sebagai hasil belajar, yaitu memuat seperangkat tujuan yang utuh untuk mencapai hasil tertentu, tanpa menspesifikasikan cara-cara yang dituju untuk meperoleh hasil yang dimaksud. Dalam makna lain, memuat seperangkat hasil belajar yang direncanakan dan diinginkan.
5.      Kurikulum sebagai pengalaman belajar, yaitu keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah pimpinan sekolah.
6.      Kurikulum sebagai produksi, yaitu seperangkat tugas yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang ditetapakan terlebih dahulu.[2]  

C.    Dasar Kurikulum Pendidikan Islam
1.      Dasar Agama
Dasar ini hendaknya menjadi ruh dan target tertinggi dalam kurikulum. Dasar agama dalam kurikulum yang islami harus didasarkan pada Al-Qur’an, hadis dan hukum alam.
2.      Dasar Falsafah
Dasar ini memberikan pedoman bagi tujuan pendidikan secara filosofis sehingga tujuan, isi dan organisasi kurikulum mengandung kebenaran dan pandangan hidup dalam bentuk nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu kebenaran, baik dilihat dari segi ontologi, epistemologi, maupun aksiologi.
3.      Dasar Psikologis
Dasar ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan ciri-ciri perkembanga psikis peserta didik sesuai dengan tahap kematangan dan bakatnya, serta memperhatikankecakapan pemikiran dan perbedaan perorangan antara satu peserta dengan yang lainnya.
4.      Dasar Sosial
Dasar ini memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan yang tercermin pada dasar sosial yang mengandung ciri-ciri masyarakat Islam dan kebudayaannya baik dari segi pengetahuan, nilai-nilai ideal, cara berpikir, adat kebiasaan, dan sebagainya.[3] 

D.    Ciri-Ciri Pendidikan Islam
Diantara cirri-ciri umum kurikulum pada pendidikan islam antara lain yaitu:[4]
1.      Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan-kandungan, metode-metode, alat-alat dan tekniknya bercorak agama. Segala yang diajarkan dan diamalkan dalam lingkungan agama dan akhlak dan berdasarkan pada Al-Qur’an, sunnah, dan peninggalan orang-orang terdahulu yag saleh.
2.      Meluasnya perhatian dan menyeluruhnya kandungan-kandungannya. Kurikulum yang memperhatikan pengembangan dan bimbingan terhadap segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologi, social dan spiritual. Disamping menaruh perhatian kepada pengembangan dan bimbingan terhadap aspek spiritual bagi pelajar, dan pembinaan aqidah yang betul padanya, menguatkan hubungan dengan Tuhannya, menghaluskan akhlaknya, melalui kajian terhadap ilmu-ilmu agama, latihan spiritual dan mengamalkan syiar-syiar agama dan akhlak islam. Kurikulum ini meliputi ilmu-ilmu al-qur’an termasuk tafsir, bacaan,dll,ilmu-ilmu hadist, ilmu tauhid, ilmu nahwu, saraf, arudh, dan lain-lain.
3.      Ciri-ciri keseimbangan yang relative diantara kandungan-kandungan kurikulum dari ilmu-ilmu dan seni atau kemestian-kemestian, pengalaman-pengalaman, dan kegiatan-kegiatan pengajaran yang bermacam-macam. Kurikulum pendidikan Islam, sebagaimana ia terkenal dengan menyeluruhnya perhatian dan kandunganya, juga menaruh perhatian untuk mencapai perkembangan yang menyeluruh, lengkap melengkapi, dan berimbang antara orang dan masyarakat.
4.      Kecenderungan pada seni halus, aktivitas pendidikan jasmani, latihan militer, pengetahuan teknik, latihan kejuruan, bahasa asing, sekalipun atas dasar perseorangan dan juga bagi mereka yang memiliki keediaan dan bakat bagi perkara-perkara ini dan mempunyai kenginan untuk mempelajari dan melatih diri dalam perkara itu.
5.      Perkaitan antara kurikulum dalam pendidikan Islam dalam kesediaan-kesediaan pelajar-pelajar dan minat, kemampuan, kebutuhan dan perbedaan-perbedaan perseorangan diantara mereka.

E.     Konsep Kurikulum Pendidikan Islam
Konsep kurikulum menurut Hasan Langgulung adalah konsep kurikulum modern, melalui pengertian yang luas terhadap kurikulum, kurikulum tidak hanya meliputi mata pelajaran dan pengalaman-pengalaman yang telah tersusun yang berlaku didlama kelas, akan tetapi meliputi juga semua kegiatan kebudayaan, kesenian, olah raga, dan sosial yang dilakukan oleh siswa diluar kelas dan dibaah kelola sekolah.[5]
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun kurikulum Pendidikan Islam yaitu: pertama, konsep Islam tentang manusia sangat luas. kedua, pengetahuan adalah sumber kemajuan dan perkembangan Islam tidak membatasi pencapaian pengetahuan. Ketiga, besarnya penilikan harus komprehensif. Keempat, aspek spiritual, moral, intelektual, imajinatif, fisik dan kepribadian seseorang harus diperhatikan ketika membuat interelasoi antara berbagai disiplin. Pertumbuhan kemampuan dan pikiran seorang anak harus menjadi pertimbangan untuk menyusun subyek dan rangkaian pelajaran dalam tahap-tahap bertingkat. Kelima, perkembangan kepribadian seharusnya dilihat dalam konteks hubungan manusia dengan tuhan dan manusia dengan alam.

F.     Komponen Kurikulum Pendidikan Islam
1.      Menurut Hasan Langgulung ada 4 komponen utama kurikulum yaitu[6]:
a.       Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas lagi orang yang bagaimana yang ingin kita bentuk dengan kurikulum tersebut.
b.      Pengetahuan (knowledge), informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas dan pengalaman-pengalaman dari mana bentuk kurikulum itu. Bagian inilah yang disebut mata pelajaran.
c.       Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk mengajar dan memotivasi murid untuk membawa mereka kearah yang dikehendaki oleh kurikulum.
d.      Metode dan cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut.
2.      Menurut penulis komponen kurikulum itu meliputi:
a.       Tujuan, yang ingin dicapai meliputi: (1) Tujuan Akhir, (2) Tujuan Umum, (3) Tujuan Khusus, (4) Tujuan Sementara.
Di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) seorang pendidik harus pula dapat merumuskan kompetansi yang ingin dicapai, yaitu (1) standar kompetensi, (2) kompetensi dasar, (3) indikator kompetensi.
b.      Isi Kurikulum
Berupa materi pembelajaran yang diprogram untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Materi tersebut disusun dalam silabus, dan dalam mengaplikasiksnnya dicantumkan pula dalam Satuan Acara Perkuliahan (SAP) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Setiap materi tersebut harus jelas scope dan squencenya.
c.       Media (sarana dan prasarana)
Media sebagai sarana perantara dalam pembelajaran untuk menjabarkan isi kurikulum agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik. Media tersebut berupa benda (materil) dan bukan benda (non materil).
d.      Strategi
Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta teknik mengajar yang digunakan. Dalam strategi termasuk juga komponen penunjang lainya seperti: (1) sistem administrasi, (2) pelayanan BK, (3) remedial (4) pengayaan dan sebagainya.
e.       Proses Pembelajaran
Komponen ini sangat penting, sebab diharapkan melalui proses pembelajaran akin terjadi perubahan tinhkah laku pada diri peserta didik sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan kurikulum.
f.       Evaluasi
Dengan evaluasi (penilaian) dapat diketahui tercapai tidaknya tujuan atau kompetensi yang telah dirumuskan.
G.    Klasifikasi Ilmu Dalam Kurikulum Pendidikan Islam
Para ahli pakar muslim telah banyak memberikan pandangannya tentang apa saja yang harus diketahui dan dipelajari oleh manusia selaku hamba Allah, selaku anggota masyarakat dan selaku pribadi berakhlak susila[7].
1.      Al-Ghozali membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga kelompok ilmu yaitu:
a.       Ilmu yang tercela banyak atau sedikit. Misalnya ilmu sihir dan perdukunan.
b.      Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit, misalnya, ilmu tauhid, ilmu agama.
c.       Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu yang tidak boleh dialami, karena ilmu ini dapat membawa kepada kegoncangan iman, misalnya ilmu filsafat.
Dari segi kelompok tersebut Al-Ghozali membagi lagi menjadi dua kelompok dilihat dari kepentingannya yaitu:
1.      Ilmu yang fardhu (wajib) ain yaitu ilmu untuk diketahui semua orang muslim yaitu ilmu agama, ilmu yang bersumberkan kitab suci Allah.
2.      Ilmu yang fardhu kifayah untuk dipelajari sebagian muslim. Misalnya ilmu hitung (matematika), ilmu kedoktersn, ilmu teknik ilmu pertanaian dan industri.
Al-Ghozali mengusulkan beberapa ilmu pengetahuan yang harus dipelajari di sekolah sebagai berikut:
a.       Ilmu-ilmu fardhu ain yaitu al-qur’an dan ilmu agama seperti fiqh, hadist tafsir.
b.      Sekumpulan bahasa, nahwu dan makhraj serta kafadh-kafadhnya Karena ilmu ini membantu ilmu agama.
c.       Ilmu-ilmu yang fardhu kifayah yaitu ilmu kedokteran, matematika, teknologi  yang beraneka ragam jenisnya, termasuk juga ilmu politik.
d.      Ilmu kebudayaan seperti syair, sejarah dan beberapa cabang filsafat.
2. Ibnu Kaldun membagi ilu menjadi tiga macam yaitu:
a.       Ilmu lisan (bahasa) yaitu ilmu Itigha, nahwu, bayan, dan satra (adab) atau bahasa yang tersusun secara puitis (syair).
b.      Ilmu naqli yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunah nabi. Ilmu n berupa membaca kitab suci al-qur’an dan tafsirnya sanad hadist, dan pentashihannya serta istimbat tentang qanun-qanun fiqh.
c.       Ilmu aqly yaitu ilmu yang dapat menunjukkan manusia mempergunakan daya pikir atau kecerdasannya kepada filsafat dan semua ilmu pengetahuan. Termasuk dalm kategori ilmu ini adalah ilmu mantiq (logis), ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu teknik, hitung dan tingkah laku (behavior) manusia. Termasuk juga ilmu nujum (perbintangaan) dan ilmu sihir.
Dari segi kepentingan untuk para pelajar, Ibnu Kaldun membagi (mengklasifikasikan) ilmu menjadi:
1)      Ilmu seni dengan semua jenisnya.
2)      Ilmu filsafat seperti ilmu alam dan ilmu ketuhanan.
3)      Ilmu alat yang membantu ilmu agama seperti ilmu lughah, nahwu dan sebagainya.
4)      Ilmu alat yang membantu ilmu falsafah seperti ilmu mantiq (logis)
3.    Pendapat Ibnu Sina ilmu pengetahuan itu ada dua jenis yaitu ilmu nazhari                                                          (teoritis) dan ilmu ‘amali (praktis), yang tergolong dalam ilmu nazhory ialah ilmu alam, dan ilmu riyadhi (ilmu urai dan matematika). Adapun ilmu ‘amali (ptaktis) adalah imu yang membahas tentang tingakh laku manusia dilihat dari segi tingkah laku individualnya. Ilmu ini menyangkut ilmu akhlak.
4.    Dr. Abdurrahman Saleh abdulullah, mengategorikan pengetahuan yang menjadi     materi kurikulum pendidikan islam kepada tiga kategori:
a.       Kategori pertama adalah materi pelajaran yang dikaitkan dengan Al-Qur’qn dan Al-Hadits, atau biasa dikenal dengan istilah maeri pelajaran agama.
b.      Kategori kedua dalam bidang ilmu pengetahuan yang termasuk dalam isi kurikulum pendidikan islam adalah ilmu-ilmu tentang kemanusiaan (al-insaniyyah), kategori ini meliputi bidang-bidang psikologi, sosiologi, sejarah dan lain-lain.
c.       Kategori ketiga yaitu ilmu-ilmu kealaman ( al-ulum al-kawniyah), termasuk dalam kategori ini adalah Biologi, Fisika, Botani, Astronomi dan lain-lain.
Berdasarkan kerangka dasar tersebut maka Konferensi Pendidikan Islam Sedunia melaksanakan Seminar Internasional tentang konsep dan kurikulum pendidikan islam.kerangka dasar kurikulum pendidikan islam tersebut mereka kembangkan dalam pengklasifikasian ilmu sebagai tercantum dibawah ini.
1) Al-Qur'an
a) Pembacaan (Qiraah)
b) Penghafalan (hifz)
    Interpretasi (tafsir)
c) Sunnah
d) Sirah Nabi (saw) adalah teman dan pengikutnya (yang mencakup    sejarah awal islam).
e) tauhid
f) Ushul fiqh dan fiqh
g) Bahasa Arab Alquran (phonologi, systax, sementics).
2) subjek tambahan
a)      Imagenatif (Seni). Seni dan Arsitektur Islam, Bahasa, Sastra.
b)      Ilmu Intelektual: Studi Sosial (heoretis); Filsafat; Pendidikan;   Ekonomis; Ilmu politik; Sejarah: Peradaban Islam (meniru gagasan Islam tentang politik, ekonomi, kehidupan sosial, perang dan perdamaian); Geografi; Sosiologi; Linguistik (islamization of languages), psikologi (dengan referensi khusus ke Al Qur'an dan Hadits dan dianalisis dan dipahami oleh pemikir muslim dan sufi besar). Antropologi seperti yang bisa ia simpulkan dari Al Qur'an, an dan Sunnah).
c)      Ilmu pengetahuan alam (filsafat teoritis, sains, matematis, statistic fisika, kimia, ilmu hayati, astronomi dan ilmu ruang dll.
d)     Rekayasa sains terapan dan teknologi (sipil, mekanik, dll) obat-obatan
     (tibb, aleopathic, horneo phatic, vetenary agriculture and forestry).
e)      Praktis, perdagangan, keterhubungan administrasi bisnis, ilmu pengetahuan komunikatif rumah (masa komunikasi, dll).
Semua bisnis ilmu pengetahuan yang diakuisisi di atas, bentuk kehidupan umat Islam dari sudut pandang aliran pemikiran Islam seharusnya ada dalam semua bujukan studi sosial.
Jenis-jenis ilmu-ilmu inilah yang sebenarnya dijadiakn substansi kurikulum lembaga-lembaga pendidikan islam, meskipaun demikian bentuknya harus diadakan modifikasi, formulasi ataupun penyempurnaan sesuai dengan tuntunan masyarakat setempat, mengingat masyarakat setempat, mengingat lembaga pendidikan adalah cermin cita-cita masyarakatnya.
H.    Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam
            Pemberlakuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan . Pengelola yang sebelumnya bersifat sentralistik berubah menjadi desentralistik. Salah satu penerapan desentralisasi pengelolaan pendidikan adalah dengan diberikannya wewenang kepada sekolah untuk menyusun kurikulum.
            Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu tersebut meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisis dan potensi daerah, sekolah dan peserta didik.
            Dalam perspektif Islam, tuuan yang berarti sangat penting sehimgga harus terus dikembangkan dan diperjelas. Dengan demikian tujuan menjadi sentra pengembangan kurikulum. Tujuan yang jelas akan mempermudah pendidik mengambil langkah operasional dalam prosese pendidikan.
            Pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan kepada peserta didik untuk:
1.      Belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.      Belajar untuk memahami dan menghayati.
3.      Belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif.
4.      Belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain.
5.      Belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangka.
            Sementara itu tujuan pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut:
1.      Membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
2.      Meningkatkan kesadaran dan wawasan perserta didik akan status, hak, dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta meningkatkan kualitas dirinya sebagai manusia.
3.      Mengenal, menyikapi dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.
4.      Meningkatkan potensi fisik serta menanamkan sportivitas dan kesadaran hidup sehat.
            Kemudian, kurikulum dikembangkan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:[8]
1.      Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentinganpeserta didik dan lingkungannya.
      Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral (student centered) untuk mengembangkan kompetensinnya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.      Beragam dan terpadu
      Kurikulum dikembangkan dengan memerhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah dan jenjang. Kurikulum juga dikembangkan berdasarkan jenis pendidikan tanpa membedakan agama, suku, buday, adat istiadat, status sosial ekonomi dan gender.
3.      Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
      Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan berkembang secara dinamis.
4.      Revelan dengan kebutuan kehidupan
      Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatakan pemangku kepentingan untuk menjamin relevansi di pendidikan dengan kebutuhan kehidupan.
5.      Menyeluruh dan berkesinambungan
      Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian, keilmuan, dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
6.      Belajar sepanjang hayat
      Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
7.      Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

I.       Cara-Cara Mendesain Kurikulum Pendidikan Islam
1.      Menentukan hal-hal esensial yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran dan domain.
2.      Indetifikasi domain tujuan pembelajaran.
3.      Identifikasi tipe peluang belajar yang mungkin.
4.      Menentukan desain kurikulum yang cocok.
5.      Menyiapkan desain kurikulum secara tentatif.
6.      Identifikasi persyaratan implmentasi.



BAB II
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kurikulum adalah program pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kekiatan belajarnya saja, akin tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. bahwa   kurikulum   Pendidikan Agama Islam adalah rumusan tentang tujuan, materi, metode dan evaluasi pendidikan dan evaluasi pendidikan yang bersumber pada ajaran agama Islam.
Funsi kurikulum diantarannya adalah sebagai progam studi, content, kegiatan berencana, hasil belajar, pengalaman belajar, dan sebagai produksi.
Dasar kurikulum terbagi menjadi empat yaitu dasar agama dasar ini harus di dasarkan pada Al-Quran , hadis dan hukum alam. dasar falsafah Dasar ini memberikan pedoman bagi tujuan pendidikan secara filosofis. dasar psikologi Dasar ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan ciri-ciri perkembanga psikis peserta didik dasar sosial Dasar ini memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan yang tercermin pada dasar sosial.
Diantara cirri-ciri umum kurikulum pada pendidikan islam antara lain yaitu:1) Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan-kandungan, metode-metode, alat-alat dan tekniknya bercorak agama, 2) Meluasnya perhatian dan menyeluruhnya kandungan-kandungannya, 3) Ciri-ciri keseimbangan yang relative diantara kandungan-kandungan kurikulum, 4) Kecenderungan pada seni halus, aktivitas pendidikan jasmani, latihan militer dan lain-lain, 6) Perkaitan antara kurikulum dalam pendidikan Islam dalam kesediaan-kesediaan pelajar-pelajar dan minat, kemampuan, kebutuhan dan perbedaan-perbedaan perseorangan.
Konsep kurikulum Pendidikan Islam yaitu: pertama, konsep Islam tentang manusia sangat luas. kedua, pengetahuan adalah sumber kemajuan dan perkembangan Islam tidak membatasi pencapaian pengetahuan. Ketiga, besarnya penilikan harus komprehensif. Keempat, aspek spiritual, moral, intelektual, imajinatif, fisik dan kepribadian seseorang harus diperhatikan ketika membuat interelasoi antara berbagai disiplin. Kelima, perkembangan kepribadian seharusnya dilihat dalam konteks hubungan manusia dengan tuhan dan manusia dengan alam.
            Diantara komponen kurikulum adalah tujuan, isi kurikulum, media(sarana prasarana), strategi, proses pembelajran, evaualuasi. Dalam perspektif Islam, tuuan yang berarti sangat penting sehimgga harus terus dikembangkan dan diperjelas. Dengan demikian tujuan menjadi sentra pengembangan kurikulum. Tujuan yang jelas akan mempermudah pendidik mengambil langkah operasional dalam prosese pendidikan.
            Cara mendesain kurikulumpendidikan islam adalah Menentukan hal-hal esensial yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran dan domain, Indetifikasi domain tujuan pembelajaran, Identifikasi tipe peluang belajar yang mungkin, Menentukan desain kurikulum yang cocok, Menyiapkan desain kurikulum secara tentative danIdentifikasi persyaratan implmentasi.

B.     Kritik dan Saran
Demikianlah penulisan makalah ini, mudah-mudahan apa-apa yang ditulis dalam makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan khususnya yang membaca makalah ini. Dan masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini tentunya kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat dibutuhkan untuk memperbaiki makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA
Langgulung, Hasan, 2008.  Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Pustaka Al
Husna.
Ramayulis.,2015. ilmu pendidikan islam,  Jakarta: Kalam mulia.
Sutrisno, 2006. Pendidikan Islam yang Menghidupkan, Yogyakarta: Kota
Kembang
Wiyani, Novan Ardy dan Barnawi.  2012. Ilmu Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-
Ruzz Media. .





[1] Novan Ardy Wiyani dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hal .168 .
[2] Novan Ardy Wiyani dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hal .169 .
[3] Novan Ardy Wiyani dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hal. 170 .
[4] Sutrisno,. Pendidikan Islam yang Menghidupkan, (Yogyakarta: Kota Kembang, 2006),  hal.490-512.
[5] Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna, 2008), hal. 241.
[6] Prof DR. H. Ramayulis. ilmu pendidikan islam, (Jakarta: Kalam mulia 2015), hal.234.

[7] Prof DR. H. Ramayulis. ilmu pendidikan islam, (Jakarta: Kalam mulia 2015), hal.246.
[8] Novan Ardy Wiyani dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hal .171 .


Link ujian UAMNU 2022

 LINK UJIAN UAMNU 2022 BAHASA JAWA https://forms.gle/eoCh9WnBhXy7Bgzm7 LINK UJIAN UAMNU 2022 BAHASA JEPANG https://forms.gle/ckVdrr2QVFF8Bi1...