BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam menciptakan lingkungan kelas yang produktif, kita harus dapat
menciptakan ruang kelas yang nyaman agar para siswa dapat mengikuti pelajaran
dengan tenang. Guru yang efektif akan mengkomunikasikan kepedulian dan hormat
kepada siswa melalui hal-hal yang mereka lakukan setiap hari. Tetapi yang lebih
penting, guru mengkomunikasikan kepedulian dan respek dengan persiapan mengajar
yang baik.
Sebagai guru yang efektif, juga terdapat batasan yang masuk akal
dan arahan bagi perilaku siswa, dan batas tesebut diterapkan secara konsisten
untuk membantu siswa bertindak sesuai aturan dan petunjuk. Guru juga harus
dapat mengkomunikasikan sebuah perasaan yang membuat mereka sadar apa yang
mereka lakukan, entah itu melalui kata-kata maupun perbuatan.
Pada akhirnya, siswa harus diberikan rasa kebersamaan antara
anggota kelas yang mempunyai tujuan yang sama, dan harus saling menghormati dan
mendukung usaha yang lain, dan percaya bahwa semua orang memberikan kontribusi
penting pada pembelajaran kelas, baik itu dari seorang guru, peserta didik,
maupun orang tua.
B.
Rumusan masalah
1.
Apa pengertian penciptaan lingkungan kelas ?
2.
Bagaimana cara menciptakan lingkungan kelas yang kondusif ?
3.
Apakah tujuan penciptaan lingkungan kelas yang produktif ?
4.
Apa saja ruang lingkup penciptaan lingkungan kelas yang produktif ?
5.
Bagaimana ke-efektivitasan untuk lingkungan kelas yang produktif ?
6.
Bagaimana pendidikan islam yang efektif ?
C.
Tujuan masalah
1.
Untuk mengetahui pengertian penciptaan lingkungan kelas.
2.
Untuk mengetahui cara menciptakan lingkungan kelas yang kondusif.
3.
Untuk mengetahui tujuan penciptaan lingkungan kelas yang produktif.
4.
Untuk mengetahui ruang lingkup penciptaan lingkungan kelas yang
produktif.
5.
Untuk mengetahui ke-efektivitasan untuk lingkungan kelas yang
produktif.
6.
Untuk mengetahui pendidikan islam yang efektif.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian penciptaan lingkungan kelas
Menurut Syaiful Bahfri Djamah keadaan lingkungan kelas adalahketerampilan
seorang guru dalam menciptakan dan memelihara kondisi sebuah lingkungan belajaryang
optimal. Kegiatan-kegiata untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang
optimalbagi terjadinya proses interaksi edukatif. Yang dimaksud dalam halini
misalnya penghentian tingkah laku anak yang menyeleweng, perhatian ganjaran
bagi ketepatan waktupenyelesaian kerja siswa, atau penetapan norma
kelompokproduktif.[1]
Penciptaan lingkungan kelas merupakan keterampilan guru untuk
menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi
gangguan dalam pembelajaran. Sedikitnya terdapat tujuh hal yang harus
diperhatikan untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan
menyenangkan yaitu ruang belajar, pengaturan sarana belajar, susunan tempat
duduk, penerangan, suhu, pemanasan sebelum masuk materi yang akan dipelajari,
dan bina suasana dalam belajar.[2]
Berdasarkan beberapa defenisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan suasana belajar
yang kondusif sehingga siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan tenang.Guru
juga harus dapat mengendalikan kelas apabila terjadi gangguan-gangguan yang
dapat mengganggu ketenangan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Pengelolaan
kelas yang produktif adalah pengelolaan lingkungan kelas yang dimana
mahasiswanya selalu terlibat dalam aktivitas belajar yang aktif dan perilaku
mereka tidak mengganggu tercapainya tujuan pengajaran.
B.
Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar
1.
Mengatur kelas
Mengatur kelas dimulai sebelum hari pertama sekolah. Ada beberapa
strategi yang dapat membantu:
a.
Mengatur perabotan yang mungkin mendorong interaksi siswa
b.
Meminimalkan kemungkinan distraksi (pengalihan perhatian)
c.
Mengatur kelas sedemikian rupa agar kita mudah berinteraksi dengan
siswa
2.
Membangun dan mempertahankan hubungan guru-siswa yang produktif
Di sebuah kelas dibutuhkan keterjalinan antara guru dan siswa yang
mungkin terwujud dalam berbagai cara. Misalnya, siswa mungkin mencari
persetujuan kita untuk sesuatu yang telah mereka lakukan dengan baik. Sedangkan
siswa lain mungkin berperilaku tidak patut untuk mendapatkan perhatian kita.
3.
Menciptakan iklim psikologis yang efektif
Berikut beberapa strategi untuk menciptakan lingkungan iklim
psikologis yang efektif:
a.
Tunjukan bahwa tugas sekolah dan pokok bahasan itu berharga
b.
Berilah siswa kesempatan untuk mengendalikan aktivitas-aktivitas
kelas
c.
Minimalkan persaingan di antara para siswa
d.
Tingkatkan rasa kebersamaan dan keterjalinan
4.
Memodifikasi strategi pengajaran
Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa ketika siswa berperilaku
tidak patut, para guru pemula sering terlalu fokus pada kesalahan siswa.
Sebaliknya, guru yang berpengalaman lebih cenderung berpikir tentang apa yang
dapat mereka lakukan secara berbeda untuk membuat siswa tetap belajar, dan
mereka memodifikasi pengajaran.
C.
Tujuan penciptaan lingkungan kelas yang produktif
Menurut
Nurhasnawati tujuan penciptaan lingkunga kelas yang produktif yaitu:
1.
Mendorong siswa untuk mengembangkan tanggung jawab individu
terhadap tingkah lakunya.
2.
Membantu siswa agar mengerti tingkah laku yang sesuai dengan tata
tertib kelas.
3.
Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri sendiri diri.[3]
Selanjutnya Suharsimi Arikunto berpendapat bahwa tujuan penciptaan
lingkungan kelas yang produktif adalah agar setiap siswa dikelas dapat bekerja
dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengejaran secara efektif dan
efisien. Indikator kelas yang tertib adalah sebagi berikut:[4]
1.
Setiap anak terus bekerja, tidak macet, artinya tidak ada anak yang
terhenti karena tidak tahu akan tugasnya.
2.
Setiap anak harus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, artinya
setiap anak akan bekerja secepatnya agar lekas menyelesaikan tugas yang
diberikan kepadanya.
D.
Ruang lingkup penciptaan kelas yang produktif
1.
Pengelolaan tata lingkungan fisik kelas
Salah satu faktor yang penting dalam belajar adalah lingkungan.Guru
harus menciptakan lingkunagan kelas yang membatuperkembangan pendidikan subjek
didiknya (siswa). Lingkungan fisikkelas harus bersih dan sehat.Kelas sedapat
mungkin harus merupakansuatu tempat yang indah dan menyenangkan.
2.
Pengelolaan dan penegakan disiplin kelas
Pengelolaan disiplin dimaksud sebagai upaya untuk mengatur atau
mengontrol perilaku siswa untuk mencapai tujuan pendidikan karena ada perilaku
yang harus dicegah atau dilarang atau sebaliknya harus dilakukan.
3.
Pengelolaan perilaku siswa
Perilaku siswa merupakan masalah karena terkait erat dengan efektif
belajar dari kedua siswa dan persfektif guru.Ketika ruang kelas yang bebas dari
gangguan, siswa dapat menggunakan waktu untuk kegiatan belajar dikelas.Perilaku
satu siswa yang menganggu dapat mengalihkan siswa lainnya dari
pembelajaran.Perilaku yang tidak pantas harus ditangani dengan segera untuk
mencegah perilaku tersebut terus berkembang dan menyebar.Pengabaian yang
berlangsung lama menyulitkan bagi para siswa untuk belajar dan menyelesaiakan
tugas.
E.
Efektifitas belajar untuk lingkungan kelas yang produktuf
1.
Pengertian pembelajaran
Pembelajaran adalah usaha untuk membuat peserta didik belajar atau
kegiatan untuk membelajarkan peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran
merupakan upaya menciptakan kondisi belajar agar terjadi kegiatan belajar.
Dalam UU. No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 ayat 20, pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar.
Menurut Rusman pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri
atas berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.[5]
Pembelajaran merupakan kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan
guna untuk mempengaruhi peserta didik agar mereka dapatmencapai tujuan dan
standar kompetensi yang telah ditetapkan dalamkurikulum.[6]
Sedangkan menurut Mulyasa pembelajaran pada hakikatnya adalahproses
interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan
perilaku kearah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor
yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari dalam diri
individu, maupun faktor eksternal yang datangnya dari lingkungan.Dalam kondisi
pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan
agar menunjang terjadinya perubahan perilaku peserta didik.
Wina Sanjaya berpendapat bahwapembelajaran ditunjukkan oleh
beberapa ciri sebagai berikut:
a.
Pembelajaran adalah proses berfikir
Belajar adalah proses berfikir. Belajar berfikir menekankan kepada
proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu
dengan lingkungannya.
b.
Proses pembelajaran adalah memanfaatkan potensi otak
Pembelajaran berfikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara
maksimal.Menurut beberapa ahli otak manusia terdiri dari dua bagian, yaituotak
kanan dan otak kiri.Masing-masing fungsi belahan otak memiliki spesialisasi
dalam kelampuan-kemampuan tertentu. Dengan demikian, pembelajaran
mestinyamengembangkan kemampuan yang berhubungan
dengan fungsi otak.
c.
Pembelajaran berlangsung sepanjang hayat
Belajar adalah proses terus menerus yang tidak pernah berhenti dan
tidak terbatas pada dinding kelas. Hal ini berdasarkan pada asumsi bahwa
sepanjang kehidupannya manusia akan selalu dihadapkan pada masalah atau tujuan
yang ingin dicapainya. Atas dasar itulah sekolahharus berperan sebagai wahana
untuk memberikan latihan bagaimana cara belajar. Melalui kemampuan bagaimana
belajar, siswa akan dapat belajar memecahkan setiap rintangan yang dihadapi
sampai akhir hayatnya.[7]
Dari uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah
interaksi antara siswa dengan linkungannya dimana di dalam interaksi tersebut
siswa memanfaatkan potesi otak untuk mngubah dirinya ke rah yang lebih baik.
2.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Proses pembelajaran dalam pendidikan agama Islam selalu memperhatikan
perbedaan individiupeserta didik serta menghormati harkat, martabat, dan
kebebasan berfikir mengeluarkan pendapat dan menetapkan pendiriannya, sehingga
bagi peserta didik belajar merupakan hal yang meenyenangkan dan sekaligus
mendorong kepribadiannya berkembang secara optimal. Oleh karena itu,
pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran sebagai berikut:[8]
a.
Berpusat pada peserta didik
b.
Belajar dengan melakukan
c.
Mengembangkan kemampuan social
d.
Mengembankan keingintahuan
e.
Mengembankan kreatifitas peserta didik
f.
Menumbuhkan kesadaran sebagai warga Negara yang baik
g.
Belajar sepanjang hayat
h.
Keterpaduan kompetensi, kerjasama dan solidaritas
i.
Belajar melalui pembiasaan
3.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran
a.
Faktor guru
Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam
prosesPembelajaran. Guru dalam mendidik seharusnya tidak hanya
mengutamakanpengetahuan dan perkembangan intelektual saja, tetapi juga
harusmemperhatikan perkembangan seluruh pribadi peserta didik, baikjasmani,
rohani, sosial maupun yang lainnya yang sesuai dengan hakikatpendidikan.[9]
b.
Faktor siswa
Siswa merupakan “raw material” (bahan mentah) dalam proses
tranformasi dalam pendidikan, dan yang berkembang sesuai dengan tahap
perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluru aspek
kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama pekembangan masing-masing anak pada
setiap aspek tidak sama. Proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh
perkembangan anak yang tidaksama itu, di samping karakteristik lain yang
melekat pada diri anak.
c.
Faktor sarana prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsungterhadap
kelancaran proses pembelajaran, misalnya media pembelajaran,alat-alat
pembelajaran, perlengkapan sekolah, dan lain sebagainya.Sedangkan prasarana
adalah segala sesuatu yang secara tidak langsungdapat mendukung keberhasilan
proses pembelajaran, misalnyajalanmenuju sekolah, penerangan sekolah, kamar
kecil dan lainsebagainya.
Kelengkapan saran dan prasaran akan membantu guru dalam
penyelenggaraan proses pembelajaran, dengandemikian, saran dan prasasrana
merupakan komponen penting yang dapat mempengaruh proses pembelajaran.[10]
d.
Faktor lingkungan
Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua faktor yang dapat
mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu organisasi kelas dan iklim
social-psikologis.Factor organisasai kelas yang di dalamnya meliputi jumlah
siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang dapat mempengaruhi proses
pembelajaran. Organisasikelas yang terlalu besar akan kurang efektif untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
F.
Efektifitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Efektifitaspembelajaran
Pendidikan Agama Islam diukur melalui indikatorsebagai berikut:
1.
Siswa memahami dan menguasai materi pembelajaran yang diberikan
oleh guru.
2.
Siswa memperhatikan penjelasan guru selama proses pembelajaran.
3.
Siswa bertanya kepada guru mengenai pelajaran yang tidak dipahami.
4.
Siswa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru yang
berkaitandengan materi pembelajaran.
5.
Siswa memberikan pendapatnya tentang materi pembelajara.
6.
Siswa tidak bermain selama proses pembelajaran berlangsun.
7.
Siswa tidak menggangu temannya selama proses pembelajara berlangsung.
8.
Siswa mengulang kembali pelajaran yang diberikan oleh guru dirumah.
9.
Siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru tepat waktu.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Keterampilan guru sangat diperlukan
untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika
terjadi gangguan dalam pembelajaran. Dengan begitu, seorang guru ataupun calon
guru harus mengetahui bagaiman cara menciptakan lingkungan kelas yang
produktif, antara lain: harus mengetahui cara mengatur kelas, mempertahankan
hubungan antara guru dan siswa, dan memodofikasi strategi pembelajaran.
Terdapat beberapa tujuan dari menciptakan lingkunga kelas yang
produktif, antara lain; membentuk tingkah laku siswa menjadi lebih baik. Dari
beberapa tujuan tersebut, maka kita harus mengetahui ruang lingkup lingkungan
kelas yang produktif yang antara lain penegakan kedisiplinan, pengelolaan
perilaku siswa, dan pengelolaan lingkungan fisik kelas.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ke-efektivitasan dalam
menciptakan lingkungan kelas yang produktif, yaitu: faktor guru, faktor siswa,
faktor lingkungan, dan juga faktor sarana-prasarana. Beberapa prinsip-prinsip
pembelajaran, yaitu: Berpusat pada peserta didik Belajar dengan melakukan mengembangkan
kemampuan social
B.
Kritik dan saran
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
kekurangan dan kesalahan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari
teman-teman khususnya dari dosen pengampu untuk perbaikan makalah kami yang
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi.
2000. Pengelolaan Kelas dan Siswa.
Jakarta: Rajawali Pers.
Nurhasnawati. 2011. Media
Pembelajaran. Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau.
Ramayulis. 2008. Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta:
Kalam Mulia.
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran. Jakarta:PT. Raja
Grafindo Persada.
Sanjaya,
Wina. 2009. Kurikulum dan PembelajaranJakarta: Kencana Prenada Media
Sanjaya, Wina. 2010. Perencanaandan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:Kencana.
[1]Syaiful Bahfri Djamah, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif,
(Jakarta: Rineka Cipta,2000) hal. 145
[2]Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung,: PT Remaja
Rosda Karya,2012), hal. 165
[3]Nurhasnawati,Strategi Pengajaran Micro, (Pekanbaru: Suska
Press,2002) h. 31
[4]Suharsimi Arikunto, Pengelolaan
Kelas dan Siswa, (Jakarta: Rajawali Pers, 2000), hal. 69
[5] Rusman, Model-Model Pembelajaran, (Jakarta:PT. Raja
Grafindo Persada,2011), hal. 1
[6]Nurhasnawati,Media
Pembelajaran,( Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau,2011),hal. 4
[7] Wina Sanjaya, Kurikulum
dan Pembelajaran, ( Jakarta: Kencana Prenada MediaGroup, 2009),
hal.219-222
[8]Ramayulis , Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta:
Kalam Mulia, 2008),hal. 95-103
[9] Soetjipto dan
Faflis Kosasi, Profesi Keguruan, (Jakarta : PT. Rineka Cipta , 2009),
hal.50
[10] Wina Sanjaya, Perencanaan,dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta:Kencana,2010),
hal. 18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar