BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kurikulum merupakan salah
satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena itu
kurikulum merupakan mencapai tujuan pendidian dan sekaligus sebagai sebagai
pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Tujuan
pendidikan disuatu bangsa atau negara ditentukan oleh falsalah dan pandangan
hidup bangsa atau negara tersebut. Berbedanya falsafah dan pandangan hidup suatu
bangsa dan negara menyebabkan berbeda pula tujuan yang hendak dicapai dalam
pendidikan tersebut dan sekaligus akan berpengaruh pulaterhadap negara
tersebut.
Dengan memahami kurikulum,
para pendidik dapat memilih dan menentukan tujuan pembelajaran, metode, teknik,
media pengajaran dan alat evaluasi pengajaran yang sesuai dan tepat. Untuk itu
dalam melakukan kajian terhadap keberhasilan sistem pendidikan ditentukan oleh
tujuan yang realistis, dapat diterima oleh semua pihak, sarana dan organisasi
yang baik, intensitas pekerjaan yang realistis tinggi dan kurikulum yang tepat
guna. Oleh karena itu sudah sewajarnya para pendidik dan tenaga kependidikan
bidang pendidik islam memahami kurikulum serta berusaha mengembangkannya.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian
kurikulum pendidikan Islam?
2.
Apa saja fungsi
kurikulum pendidikan Islam?
3.
Apa saja
dasar-dasar kurikulum pendidikan Islam?
4.
Bagaiman ciri-ciri
kurikulum pendidikan
Islam?
5.
Bagaimana konsep kurikulum pendidikan Islam?
6.
Apa saja
komponen kurikulum pendidikan Islam?
7.
Bagaimana klasifikasi
ilmu dalam kurikulum pendidikan Islam?
8. Bagaiman
pengembangan kurikulum pendidikan Islam?
9. Bagaimana
cara mendesain kurikulum pendidikan Islam?
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui
pengertian kurikulum pendidikan Islam.
2.
Untuk mengetahui
fungsi kurikulum pendidikan Islam.
3.
Untuk mengetahui
dasar-dasar kurikulum pendidikan Islam.
4.
Untuk mengetahui
ciri-ciri kurikulum pendidikan
Islam.
5.
Untuk mengetahui
konsep kurikulum pendidikan
Islam.
6.
Untuk mengetahui
komponen kurikulum pendidikan Islam.
7.
Untuk mengetahui
klasifikasi ilmu dalam kurikulum pendidikan Islam.
8.
Untuk mengetahui
pengembangan kurikulum pendidikan Islam.
9.
Untuk mengetahui
cara mendesain kurikulum pendidikan Islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi, dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai pendidikan
tertentu. Secara etimologi, kurikulum berasal dari Bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari atau curee yang berarti tempat berpacu.
Dalam konteks pendidikan , kurikulum memiliki
pengertian sebagai circle instrumentation,
yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya.
Dalam Bahasa Arab, kata kurikulum bias diungkapkan
dengan kata minhaj yang berarti jalan
terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan. Arti minhaj dalam pendidikan Islam berarti
seperangkat media dan perencanaan yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan
dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.
Adapun pengertian kurikulum secara luas dapat
dikelompokan menjadi tiga, yaitu:[1]
1. Pengertian
Kurikulum Secara Tradisional
Kurikulum
adalah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah atau bidang studi.
2. Pengertian
Kurikulum Secara Modern
Kurikulum
adalah semua pengalaman aktual yang dimiliki peserta didik di bawah pengaruh
sekolah, sedang bidang studi adalah bagian kecil dari progam kurikulum secara
keseluruhan.
3. Pengertian
Kurikulum Masa Kini
Kurikulum
adalah strategi yang digunakan untuk mengadaptasikan pewarisan kultural dalam
mencapai tujuan sekolah.
Pengertian kurikulum pendidikan agama Islam
sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kurikulum secara umum, perbedaan hanya
terletak pada sumber pelajarannya saja.
Sebagaimana yang diutarakan
oleh Abdul Majid
dalam bukunya Pembelajaran Agama Islam Berbasis
Kompetensi, mengatakan bahwa
kurikulum Pendidikan Agama Islam
adalah rumusan tentang tujuan, materi, metode dan evaluasi pendidikan dan
evaluasi pendidikan yang bersumber pada ajaran agama Islam.
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana
dalam menyiapkan peserta didik
untuk mcengenal, memahami,
menghayati, hingga mengimani ajaran Islam,
dibarengi dengan tuntunan
untuk menghormati penganut agama lain
dalam hubungannya dengan
kerukunan antar umat
beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
Menurut Zakiyah Daradjat pendidikan agama Islam
adalah suatu usaha untuk membina
dan mengasuh peserta
didik agar senantiasa
dapat memahami ajaran
Islam secara menyeluruh.
B.
Fungsi
Kurikulum Pendidikan Islam
1. Kurikulum
sebagai progam studi, yaitu seperangkat mata pelajaran yang mampu dipelajari
oleh peserta didik di sekolah.
2. Kurikulum
sebagai content, yaitu memuat sejumlah data atau informasi yang tertera dalam
buku teks atau informasi lainnya yang memungkinkan timbulnya proses
pembelajaran.
3. Kurikulum
sebagai kegiatan berencana, yaitu memuatan kegiatan yang direncanakan tentang
hal-hal yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal tersebut dapat
diajarkan secara efektif dan efisien.
4. Kurikulum
sebagai hasil belajar, yaitu memuat seperangkat tujuan yang utuh untuk mencapai
hasil tertentu, tanpa menspesifikasikan cara-cara yang dituju untuk meperoleh
hasil yang dimaksud. Dalam makna lain, memuat seperangkat hasil belajar yang
direncanakan dan diinginkan.
5. Kurikulum
sebagai pengalaman belajar, yaitu keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan
di bawah pimpinan sekolah.
6. Kurikulum
sebagai produksi, yaitu seperangkat tugas yang harus dilakukan untuk mencapai
hasil yang ditetapakan terlebih dahulu.[2]
C.
Dasar
Kurikulum Pendidikan Islam
1. Dasar
Agama
Dasar
ini hendaknya menjadi ruh dan target tertinggi dalam kurikulum. Dasar agama
dalam kurikulum yang islami harus didasarkan pada Al-Qur’an, hadis dan hukum
alam.
2. Dasar
Falsafah
Dasar
ini memberikan pedoman bagi tujuan pendidikan secara filosofis sehingga tujuan,
isi dan organisasi kurikulum mengandung kebenaran dan pandangan hidup dalam
bentuk nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu kebenaran, baik dilihat dari
segi ontologi, epistemologi, maupun aksiologi.
3. Dasar
Psikologis
Dasar
ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan ciri-ciri
perkembanga psikis peserta didik sesuai dengan tahap kematangan dan bakatnya,
serta memperhatikankecakapan pemikiran dan perbedaan perorangan antara satu
peserta dengan yang lainnya.
4. Dasar
Sosial
Dasar
ini memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan yang tercermin pada dasar
sosial yang mengandung ciri-ciri masyarakat Islam dan kebudayaannya baik dari
segi pengetahuan, nilai-nilai ideal, cara berpikir, adat kebiasaan, dan
sebagainya.[3]
D. Ciri-Ciri Pendidikan Islam
Diantara
cirri-ciri umum kurikulum pada pendidikan islam antara lain yaitu:[4]
1. Menonjolkan
tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan-kandungan,
metode-metode, alat-alat dan tekniknya bercorak agama. Segala yang diajarkan
dan diamalkan dalam lingkungan agama dan akhlak dan berdasarkan pada Al-Qur’an,
sunnah, dan peninggalan orang-orang terdahulu yag saleh.
2. Meluasnya
perhatian dan menyeluruhnya kandungan-kandungannya. Kurikulum yang
memperhatikan pengembangan dan bimbingan terhadap segala aspek pribadi pelajar
dari segi intelektual, psikologi, social dan spiritual. Disamping menaruh
perhatian kepada pengembangan dan bimbingan terhadap aspek spiritual bagi
pelajar, dan pembinaan aqidah yang betul padanya, menguatkan hubungan dengan
Tuhannya, menghaluskan akhlaknya, melalui kajian terhadap ilmu-ilmu agama,
latihan spiritual dan mengamalkan syiar-syiar agama dan akhlak islam. Kurikulum
ini meliputi ilmu-ilmu al-qur’an termasuk tafsir, bacaan,dll,ilmu-ilmu hadist,
ilmu tauhid, ilmu nahwu, saraf, arudh, dan lain-lain.
3. Ciri-ciri
keseimbangan yang relative diantara kandungan-kandungan kurikulum dari
ilmu-ilmu dan seni atau kemestian-kemestian, pengalaman-pengalaman, dan
kegiatan-kegiatan pengajaran yang bermacam-macam. Kurikulum pendidikan Islam,
sebagaimana ia terkenal dengan menyeluruhnya perhatian dan kandunganya, juga
menaruh perhatian untuk mencapai perkembangan yang menyeluruh, lengkap
melengkapi, dan berimbang antara orang dan masyarakat.
4. Kecenderungan
pada seni halus, aktivitas pendidikan jasmani, latihan militer, pengetahuan
teknik, latihan kejuruan, bahasa asing, sekalipun atas dasar perseorangan dan
juga bagi mereka yang memiliki keediaan dan bakat bagi perkara-perkara ini dan
mempunyai kenginan untuk mempelajari dan melatih diri dalam perkara itu.
5. Perkaitan
antara kurikulum dalam pendidikan Islam dalam kesediaan-kesediaan
pelajar-pelajar dan minat, kemampuan, kebutuhan dan perbedaan-perbedaan
perseorangan diantara mereka.
E. Konsep Kurikulum Pendidikan Islam
Konsep kurikulum menurut Hasan Langgulung adalah
konsep kurikulum modern, melalui pengertian yang luas terhadap kurikulum,
kurikulum tidak hanya meliputi mata pelajaran dan pengalaman-pengalaman yang
telah tersusun yang berlaku didlama kelas, akan tetapi meliputi juga semua
kegiatan kebudayaan, kesenian, olah raga, dan sosial yang dilakukan oleh siswa
diluar kelas dan dibaah kelola sekolah.[5]
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun
kurikulum Pendidikan Islam yaitu: pertama, konsep Islam tentang manusia
sangat luas. kedua, pengetahuan adalah sumber kemajuan dan perkembangan
Islam tidak membatasi pencapaian pengetahuan. Ketiga, besarnya penilikan
harus komprehensif. Keempat, aspek spiritual, moral, intelektual,
imajinatif, fisik dan kepribadian seseorang harus diperhatikan ketika membuat
interelasoi antara berbagai disiplin. Pertumbuhan kemampuan dan pikiran seorang
anak harus menjadi pertimbangan untuk menyusun subyek dan rangkaian pelajaran
dalam tahap-tahap bertingkat. Kelima, perkembangan kepribadian
seharusnya dilihat dalam konteks hubungan manusia dengan tuhan dan manusia
dengan alam.
F.
Komponen
Kurikulum Pendidikan Islam
1.
Menurut
Hasan Langgulung ada 4 komponen utama kurikulum yaitu[6]:
a.
Tujuan-tujuan
yang ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas lagi orang yang
bagaimana yang ingin kita bentuk dengan kurikulum tersebut.
b.
Pengetahuan
(knowledge), informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas dan
pengalaman-pengalaman dari mana bentuk kurikulum itu. Bagian inilah yang
disebut mata pelajaran.
c.
Metode
dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk mengajar dan
memotivasi murid untuk membawa mereka kearah yang dikehendaki oleh kurikulum.
d.
Metode
dan cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan
hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut.
2.
Menurut
penulis komponen kurikulum itu meliputi:
a.
Tujuan,
yang ingin dicapai meliputi: (1) Tujuan Akhir, (2) Tujuan Umum, (3) Tujuan Khusus,
(4) Tujuan Sementara.
Di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) seorang
pendidik harus pula dapat merumuskan kompetansi yang ingin dicapai, yaitu (1)
standar kompetensi, (2) kompetensi dasar, (3) indikator kompetensi.
b.
Isi
Kurikulum
Berupa materi pembelajaran yang diprogram untuk mencapai tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan. Materi tersebut disusun dalam silabus, dan
dalam mengaplikasiksnnya dicantumkan pula dalam Satuan Acara Perkuliahan (SAP)
dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Setiap materi tersebut harus jelas scope
dan squencenya.
c.
Media
(sarana dan prasarana)
Media sebagai sarana perantara dalam pembelajaran untuk menjabarkan
isi kurikulum agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik. Media tersebut
berupa benda (materil) dan bukan benda (non materil).
d.
Strategi
Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta teknik mengajar
yang digunakan. Dalam strategi termasuk juga komponen penunjang lainya seperti:
(1) sistem administrasi, (2) pelayanan BK, (3) remedial (4) pengayaan dan sebagainya.
e.
Proses
Pembelajaran
Komponen
ini sangat penting, sebab diharapkan melalui proses pembelajaran akin terjadi
perubahan tinhkah laku pada diri peserta didik sebagai indikator keberhasilan
pelaksanaan kurikulum.
f.
Evaluasi
Dengan
evaluasi (penilaian) dapat diketahui tercapai tidaknya tujuan atau kompetensi
yang telah dirumuskan.
G.
Klasifikasi
Ilmu Dalam Kurikulum Pendidikan Islam
Para ahli pakar muslim telah banyak
memberikan pandangannya tentang apa saja yang harus diketahui dan dipelajari oleh
manusia selaku hamba Allah, selaku anggota masyarakat dan selaku pribadi
berakhlak susila[7].
1.
Al-Ghozali
membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga kelompok ilmu yaitu:
a.
Ilmu
yang tercela banyak atau sedikit. Misalnya ilmu sihir dan perdukunan.
b.
Ilmu
yang terpuji, banyak atau sedikit, misalnya, ilmu tauhid, ilmu agama.
c.
Ilmu
yang terpuji pada taraf tertentu yang tidak boleh dialami, karena ilmu ini
dapat membawa kepada kegoncangan iman, misalnya ilmu filsafat.
Dari segi kelompok tersebut
Al-Ghozali membagi lagi menjadi dua kelompok dilihat dari kepentingannya yaitu:
1.
Ilmu
yang fardhu (wajib) ain yaitu ilmu untuk diketahui semua orang
muslim yaitu ilmu agama, ilmu yang bersumberkan kitab suci Allah.
2.
Ilmu
yang fardhu kifayah untuk dipelajari sebagian muslim. Misalnya ilmu
hitung (matematika), ilmu kedoktersn, ilmu teknik ilmu pertanaian dan industri.
Al-Ghozali mengusulkan beberapa ilmu
pengetahuan yang harus dipelajari di sekolah sebagai berikut:
a.
Ilmu-ilmu
fardhu ain yaitu al-qur’an dan ilmu agama seperti fiqh, hadist
tafsir.
b.
Sekumpulan
bahasa, nahwu dan makhraj serta kafadh-kafadhnya Karena ilmu ini membantu ilmu
agama.
c.
Ilmu-ilmu
yang fardhu kifayah yaitu ilmu kedokteran, matematika, teknologi yang beraneka ragam jenisnya, termasuk juga
ilmu politik.
d.
Ilmu
kebudayaan seperti syair, sejarah dan beberapa cabang filsafat.
2. Ibnu Kaldun
membagi ilu menjadi tiga macam yaitu:
a.
Ilmu
lisan (bahasa) yaitu ilmu Itigha, nahwu, bayan, dan satra (adab) atau
bahasa yang tersusun secara puitis (syair).
b.
Ilmu
naqli yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunah nabi. Ilmu n
berupa membaca kitab suci al-qur’an dan tafsirnya sanad hadist, dan
pentashihannya serta istimbat tentang qanun-qanun fiqh.
c.
Ilmu
aqly yaitu ilmu yang dapat menunjukkan manusia mempergunakan daya pikir atau
kecerdasannya kepada filsafat dan semua ilmu pengetahuan. Termasuk dalm
kategori ilmu ini adalah ilmu mantiq (logis), ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu
teknik, hitung dan tingkah laku (behavior) manusia. Termasuk juga ilmu nujum
(perbintangaan) dan ilmu sihir.
Dari segi
kepentingan untuk para pelajar, Ibnu Kaldun membagi (mengklasifikasikan) ilmu
menjadi:
1)
Ilmu
seni dengan semua jenisnya.
2)
Ilmu
filsafat seperti ilmu alam dan ilmu ketuhanan.
3)
Ilmu
alat yang membantu ilmu agama seperti ilmu lughah, nahwu dan sebagainya.
4)
Ilmu
alat yang membantu ilmu falsafah seperti ilmu mantiq (logis)
3.
Pendapat
Ibnu Sina ilmu pengetahuan itu ada dua jenis yaitu ilmu nazhari (teoritis)
dan ilmu ‘amali (praktis), yang tergolong dalam ilmu nazhory ialah ilmu
alam, dan ilmu riyadhi (ilmu urai dan matematika). Adapun ilmu ‘amali
(ptaktis) adalah imu yang membahas tentang tingakh laku manusia dilihat dari
segi tingkah laku individualnya. Ilmu ini menyangkut ilmu akhlak.
4.
Dr.
Abdurrahman Saleh abdulullah, mengategorikan pengetahuan yang menjadi materi kurikulum pendidikan islam kepada
tiga kategori:
a.
Kategori
pertama adalah materi pelajaran yang dikaitkan dengan Al-Qur’qn dan Al-Hadits,
atau biasa dikenal dengan istilah maeri pelajaran agama.
b.
Kategori
kedua dalam bidang ilmu pengetahuan yang termasuk dalam isi kurikulum
pendidikan islam adalah ilmu-ilmu tentang kemanusiaan (al-insaniyyah),
kategori ini meliputi bidang-bidang psikologi, sosiologi, sejarah dan lain-lain.
c.
Kategori
ketiga yaitu ilmu-ilmu kealaman ( al-ulum al-kawniyah), termasuk dalam kategori
ini adalah Biologi, Fisika, Botani, Astronomi dan lain-lain.
Berdasarkan
kerangka dasar tersebut maka Konferensi Pendidikan Islam Sedunia melaksanakan
Seminar Internasional tentang konsep dan kurikulum pendidikan islam.kerangka
dasar kurikulum pendidikan islam tersebut mereka kembangkan dalam
pengklasifikasian ilmu sebagai tercantum dibawah ini.
1) Al-Qur'an
a) Pembacaan (Qiraah)
b) Penghafalan (hifz)
Interpretasi
(tafsir)
c) Sunnah
d) Sirah Nabi (saw) adalah teman dan pengikutnya
(yang mencakup sejarah awal islam).
e) tauhid
f) Ushul fiqh dan fiqh
g) Bahasa Arab Alquran (phonologi, systax,
sementics).
2) subjek tambahan
a)
Imagenatif (Seni). Seni dan Arsitektur Islam, Bahasa, Sastra.
b)
Ilmu Intelektual: Studi Sosial (heoretis); Filsafat; Pendidikan; Ekonomis; Ilmu politik; Sejarah: Peradaban
Islam (meniru gagasan Islam tentang politik, ekonomi, kehidupan sosial, perang
dan perdamaian); Geografi; Sosiologi; Linguistik (islamization of languages),
psikologi (dengan referensi khusus ke Al Qur'an dan Hadits dan dianalisis dan
dipahami oleh pemikir muslim dan sufi besar). Antropologi seperti yang bisa ia
simpulkan dari Al Qur'an, an dan Sunnah).
c)
Ilmu pengetahuan alam (filsafat teoritis, sains, matematis, statistic fisika, kimia, ilmu hayati, astronomi dan ilmu ruang dll.
d)
Rekayasa sains terapan dan teknologi (sipil, mekanik, dll) obat-obatan
(tibb, aleopathic, horneo phatic,
vetenary agriculture and forestry).
e)
Praktis, perdagangan, keterhubungan administrasi bisnis, ilmu pengetahuan
komunikatif rumah (masa komunikasi, dll).
Semua bisnis ilmu
pengetahuan yang diakuisisi di atas, bentuk kehidupan umat Islam dari sudut
pandang aliran pemikiran Islam seharusnya ada dalam semua bujukan studi sosial.
Jenis-jenis
ilmu-ilmu inilah yang sebenarnya dijadiakn substansi kurikulum lembaga-lembaga
pendidikan islam, meskipaun demikian bentuknya harus diadakan modifikasi,
formulasi ataupun penyempurnaan sesuai dengan tuntunan masyarakat setempat,
mengingat masyarakat setempat, mengingat lembaga pendidikan adalah cermin
cita-cita masyarakatnya.
H. Pengembangan
Kurikulum Pendidikan Islam
Pemberlakuan Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah menuntut pelaksanaan
otonomi daerah dan wawasan demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan .
Pengelola yang sebelumnya bersifat sentralistik berubah menjadi desentralistik.
Salah satu penerapan desentralisasi pengelolaan pendidikan adalah dengan
diberikannya wewenang kepada sekolah untuk menyusun kurikulum.
Kurikulum merupakan seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara
yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu
tersebut meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan,
kondisis dan potensi daerah, sekolah dan peserta didik.
Dalam perspektif Islam, tuuan yang
berarti sangat penting sehimgga harus terus dikembangkan dan diperjelas. Dengan
demikian tujuan menjadi sentra pengembangan kurikulum. Tujuan yang jelas akan
mempermudah pendidik mengambil langkah operasional dalam prosese pendidikan.
Pengembangan kurikulum disusun
antara lain agar dapat memberi kesempatan kepada peserta didik untuk:
1. Belajar
untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Belajar
untuk memahami dan menghayati.
3. Belajar
untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif.
4. Belajar
untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain.
5. Belajar
untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif,
kreatif, efektif dan menyenangka.
Sementara
itu tujuan pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut:
1.
Membentuk
peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa serta berakhlak mulia.
2.
Meningkatkan
kesadaran dan wawasan perserta didik akan status, hak, dan kewajiban dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta meningkatkan kualitas
dirinya sebagai manusia.
3.
Mengenal,
menyikapi dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta menanamkan
kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.
4.
Meningkatkan
potensi fisik serta menanamkan sportivitas dan kesadaran hidup sehat.
Kemudian,
kurikulum dikembangkan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:[8]
1.
Berpusat pada
potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentinganpeserta didik dan
lingkungannya.
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip
bahwa peserta didik memiliki posisi sentral (student centered) untuk
mengembangkan kompetensinnya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.
Beragam dan
terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memerhatikan
keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah dan jenjang. Kurikulum
juga dikembangkan berdasarkan jenis pendidikan tanpa membedakan agama, suku,
buday, adat istiadat, status sosial ekonomi dan gender.
3.
Tanggap terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadran
bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan berkembang secara dinamis.
4.
Revelan dengan
kebutuan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan
melibatakan pemangku kepentingan untuk menjamin relevansi di pendidikan dengan
kebutuhan kehidupan.
5.
Menyeluruh dan
berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan
dimensi kompetensi, bidang kajian, keilmuan, dan mata pelajaran yang
direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang
pendidikan.
6.
Belajar
sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses
pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung
sepanjang hayat.
7.
Seimbang antara
kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
I.
Cara-Cara
Mendesain Kurikulum Pendidikan Islam
1.
Menentukan
hal-hal esensial yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran dan domain.
2.
Indetifikasi
domain tujuan pembelajaran.
3.
Identifikasi
tipe peluang belajar yang mungkin.
4.
Menentukan
desain kurikulum yang cocok.
5.
Menyiapkan
desain kurikulum secara tentatif.
6.
Identifikasi
persyaratan implmentasi.
BAB
II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kurikulum adalah program
pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi
dan kekiatan belajarnya saja, akin tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat
mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan
pendidikan yang diharapkan. bahwa kurikulum
Pendidikan Agama Islam adalah rumusan tentang tujuan, materi, metode dan
evaluasi pendidikan dan evaluasi pendidikan yang bersumber pada ajaran agama
Islam.
Funsi kurikulum
diantarannya adalah sebagai progam studi, content, kegiatan
berencana, hasil belajar, pengalaman belajar, dan sebagai produksi.
Dasar kurikulum terbagi menjadi empat yaitu dasar
agama dasar ini harus di dasarkan pada Al-Quran , hadis dan hukum alam. dasar
falsafah Dasar ini memberikan pedoman bagi tujuan pendidikan secara filosofis.
dasar psikologi Dasar ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang
sejalan dengan ciri-ciri perkembanga psikis peserta didik dasar sosial Dasar
ini memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan yang tercermin pada dasar
sosial.
Diantara
cirri-ciri umum kurikulum pada pendidikan islam antara lain yaitu:1) Menonjolkan
tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan-kandungan,
metode-metode, alat-alat dan tekniknya bercorak agama, 2) Meluasnya perhatian
dan menyeluruhnya kandungan-kandungannya, 3) Ciri-ciri keseimbangan yang
relative diantara kandungan-kandungan kurikulum, 4) Kecenderungan pada seni
halus, aktivitas pendidikan jasmani, latihan militer dan lain-lain, 6) Perkaitan
antara kurikulum dalam pendidikan Islam dalam kesediaan-kesediaan
pelajar-pelajar dan minat, kemampuan, kebutuhan dan perbedaan-perbedaan
perseorangan.
Konsep kurikulum Pendidikan Islam yaitu: pertama,
konsep Islam tentang manusia sangat luas. kedua, pengetahuan adalah
sumber kemajuan dan perkembangan Islam tidak membatasi pencapaian pengetahuan. Ketiga,
besarnya penilikan harus komprehensif. Keempat, aspek spiritual, moral,
intelektual, imajinatif, fisik dan kepribadian seseorang harus diperhatikan
ketika membuat interelasoi antara berbagai disiplin. Kelima,
perkembangan kepribadian seharusnya dilihat dalam konteks hubungan manusia
dengan tuhan dan manusia dengan alam.
Diantara komponen
kurikulum adalah tujuan, isi kurikulum, media(sarana prasarana), strategi,
proses pembelajran, evaualuasi. Dalam perspektif Islam,
tuuan yang berarti sangat penting sehimgga harus terus dikembangkan dan
diperjelas. Dengan demikian tujuan menjadi sentra pengembangan kurikulum.
Tujuan yang jelas akan mempermudah pendidik mengambil langkah operasional dalam
prosese pendidikan.
Cara mendesain kurikulumpendidikan
islam adalah Menentukan hal-hal esensial yang berkaitan dengan tujuan
pembelajaran dan domain, Indetifikasi domain tujuan pembelajaran, Identifikasi
tipe peluang belajar yang mungkin, Menentukan desain kurikulum yang cocok,
Menyiapkan desain kurikulum secara tentative danIdentifikasi persyaratan
implmentasi.
B. Kritik dan Saran
Demikianlah penulisan makalah ini, mudah-mudahan apa-apa yang ditulis
dalam makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan khususnya yang membaca makalah
ini. Dan masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini tentunya kritik
dan saran yang sifatnya membangun sangat dibutuhkan untuk memperbaiki makalah
ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Langgulung,
Hasan, 2008. Asas-Asas Pendidikan
Islam. Jakarta: PT. Pustaka Al
Husna.
Ramayulis.,2015.
ilmu pendidikan islam, Jakarta:
Kalam mulia.
Sutrisno, 2006. Pendidikan Islam yang Menghidupkan,
Yogyakarta: Kota
Kembang
Wiyani, Novan Ardy dan
Barnawi. 2012. Ilmu Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-
Ruzz
Media. .
[1]
Novan Ardy Wiyani dan
Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hal
.168 .
[2]
Novan Ardy Wiyani dan
Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hal
.169 .
[3]
Novan Ardy Wiyani dan
Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hal. 170
.
[4] Sutrisno,. Pendidikan Islam yang Menghidupkan, (Yogyakarta:
Kota Kembang, 2006), hal.490-512.
[5] Hasan
Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna,
2008), hal. 241.
[6] Prof DR. H.
Ramayulis. ilmu pendidikan islam, (Jakarta: Kalam mulia 2015), hal.234.
[7] Prof DR. H.
Ramayulis. ilmu pendidikan islam, (Jakarta: Kalam mulia 2015), hal.246.
[8] Novan Ardy Wiyani dan Barnawi, Ilmu
Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hal .171 .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar