Jumat, 07 September 2018

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN ISLAM


BAB I
PEDAHULUAN

A.  Latar belakang
Pendidikan di zaman sekarang ini sangat penting karena dengan mengikuti pendidikan, kita mengetahui ilmu baru yang belum kita ketahui sebelumnya. Dalam pendidikan atau pembelajaran banyak sekali model-model pembelajaran yang mana dengan adanya model-model pembelajaran tersebut kita bisa menjadikan pendidikan menjadi mudah untuk dipahami dan dimengerti khususnya bagi pelajar yang sedang mengikuti pelajaran dikelas.
Ditengah-tengah kemelut resesi kehidupan manusia di berbagai bidang, terutama bidang ekonomi-keuangan, dimana nilai-nilai yang mendasarinya juga terkena dampak negatifnya sehingga goyah dan rentan menjadi transitif, maka pendidikan Islam sebagai salah satu bagian dari kehidupan universal, tak dapat terhindar dari dampak keguncangannya. Oleh karenanya, pendidikan memerlukan model dan pendekatan didalamnya.
Model pendidikan merupakan cara atau tekhnik pengkajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guna saat pengkajian bahan pelajaran, baik secara individual maupun kelompok. Pendekatan dalam pendidikan Islam merupakan suatu proses, perbuatan dan cara mendekati peserta didik dan mempermudah pelaksanaan pendidikan Islam itu sendiri. Dalam proses pembelajaran yang berlangsung pasti akan didukung oleh metode dan pendekatan pembelajaran, karena dalam pembelajaran, apabila sudah menggunakan kedua sistem diatas maka komponen-komponen pendidikan akan berjalan dengan baik, khususnya pendidikan Islam baik secara efektif dan efisien
Model dan pendekatan dalam pendidikan tidak bisa dipisahkan karena kedua unsur ini merupakan alat dan cara yang digunakan untuk menunjang kelancaran pendidikan. Dilihat dari permasalahan diatas, maka penulis membuat makalah ini dengan judul “Model dan Pendekatan dalam Pendidikan Islam”



B.  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.    Apa yang dimaksud dengan pendidikan islam ?
2.    Apa yang dimaksud dengan model dalam pendidikan islam ?
3.    Apa yang dimaksud pendekatan dalam pendidikan islam ?
C.  Tujuan Masalah
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah :
1.    Untuk mengetahui pengertian pendidikan islam.
2.    Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan model dalam pendidikan islam
3.    Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pendekatan dalam pedidikan islam.

  


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Pendidikan Islam
Istilah atau terminologi pada dasarnya merupakan kesepakatan yang dibuat para ahli dalam bidangnya masing-masing terhadap pengertian tentang sesuatu. Dengan demikian dalam istilah tersebut terdapat visi, misi, tujuan yang diinginkan oleh yang merumuskannya, sesuai dengan latar belakang pendidikan, keahlian, kecenderungan, kepentingan, kesenangan dan sebagainya. Berikut pengertian menurut para ahli; Menurut Ahmad Fuad al Ahwaniy : “Pendidikan adalah pranata yang bersifat sosial yang tumbuh dari pandangan hidup tiap masyarakat. Pendidikan senantiasa sejalan dengan pandangan falsafah hidup masyarakat tersebut, atau pendidikan itu pada hakikatnya mengaktualisasikan falsafah dalam kehidupan nyata.
Menurut Ali Khalil Abul Ainain : “Pendidikan adalah program yang bersifat kemasyarakatan, oleh karena itu, setiap falsafah yang dianut oleh suatu masyarakat berbeda dengan falsafah yang dianut masyarakat lain sesuai dengan karakternya, serta kekuatan peradaban yang memengaruhinya yang dihubungkan dengan upaya menegakkan spiritual dan falsafah yang dipilih dan disetujui untuk memperoleh kenyamanan hidupnya. Makna dari ungkapan tersebut ialah bahwa tujuan pendidikan diambil dari tujuan masyarakat, dan perumusan operasionalnya ditujukan untuk mencapai tujuan tersebut, dan disekitar tujuan pendidikan tersebut terdapat atmosfer falsafah hidupnya.
Dari keadaan yang demikian itu, maka falsafah pendidikan yang terdapat dalam suatu masyarakat lainnya, yang disebabkan perbedaan sudut pandang masyarakat, serta pandangan hidup yang berhubungan dengan sudut pandang tersebut. Menurut Muhammad Athiyah al Abrasyi : “Pendidikan Islam tidak seluruhnya bersifat keagamaan, akhlak, dan spiritual, namun tujuan ini merupakan landasan bagi tercapainya tujuan yang bermanfaat.
Dalam asas pendidikan Islam tidak terdapat pandangan yang bersifat materialistis, namun pendidikan Islam memandang materi, atau usaha mencari rezeki sebagai masalah temporer dalam kehidupan, dan bukan ditujukan untuk mendapatkan materi semata-mata, melainkan untuk mendapatkan manfaat yang seimbang. Di dalam pemikiraan al Farabi, Ibnu Sina, Ikhwanul as Shafa terdapat pemikiran, bahwa kesempurnaan seseorang tidak akan tercapai, kecuali dengan mensinergikan antara agama dan ilmu.” Menurut rumusan Konferensi Pendidikan Islam sedunia yang ke-2, pada tahun 1980 di Islamabad: “Pendidikan harus ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan personalitas manusia secara menyeluruh, dengan cara melatih jiwa, akal, perasaan, dan fisik manusia. Dengan demikain pendidikan diarahkan untuk mengembangkan manusia pada seluruh aspeknya ; spiritual, intelektual, daya imajinasi, fisik, keilmuan dan bahasa, baik secara individual maupun kelompok serta dorongan seluruh aspek tersebut untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. tujuan akhir pendidikan diarahkan pada upaya merealisasikan pengabdian manusi kepada Allah ta’ala, baik pada tingkat individual, maupun masyarakat dan kemanusiaan secara luas.”[1]

B.  Model Pendidikan Islam
Model pembelajaran dalam pendidikan Islam  mempunyai peranan penting dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang diciptakan bersama, karena itu model menjadi sebuah sarana yang bermakna dalam menyajikan pelajaran, sehingga dapat membantu siswa memahami bahan-bahan pelajaran untuk mereka. Arifin Muzayin mengingatkan, bahwa tanpa model, suatu materi pelajaran tidak akan dapat memproses secara efisien dan efektik dalam pendidikan.
Model adalah penerimaan secara abstrak dari fenomena. Model memberikan ruang yang cukup luas bagi pendidikan islam. Bahwa dalam islam itu sendiri telah memberikan kebebasan dalam berkarya, namun dari situ ada batasanbatasan yang harus diperhatikan seperti tidak melanggar ketentuan syara’.
Dengan hal ini sistem pendidikan islam adalah sebagaimana nasihat sahabat nabi SAW, Ali bin Abi Thalib R.A. dalam sebuah hadist : “Ajarilah anak-anakmu (dengan pengetahuan) yang bukan seperti kamu pelajari, kaena mereka diciptakan utuk generasi zaman yang berbeda dengan zamanmu”. Nasihat ini memberikan pengertian bahwa mengajar adalah aktifitas dalam pemberian pengetahuan kepada seorang anak didik untuk menghadapi kehidupan yang akan datang, artinya model dalam pengajaran itu penting sebab bisa memberikan efek anak didiknya ketika ia mempersiapkan masa depannya untuk lebih baik lagi.
Sedangkan model pendidikan islam yang beroientasi pada falsafah dengan memperhatikan potensi psikologis dan pedagogis, model pendidikan Islam sebagai berikut:
1.    Filosofis: memandang manusia didik adalah hamba Tuhan yang diberi kemampuan fitrah, dinamis dan sosial-religius serta psiko-fisik. Cenderung kepada penyerahan diri secara total kepada sang pencipta.
2.    Etimologis : potensi berilmu pengetahuan yang berpijak pada iman dan berilmu pengetahuan untuk menegakkan iman yang bertauhid, yang bersyariyah-dharuriah, menjadi shibghah manusia muslim sejati berderajat mulia.
3.    Pedagogis: manusia adalah makhluk bealajar sejak dari ayunan sampai liang lahat yang proses perkembangannya didasari nilai-nilai Islami yang dialogis terhadap tuntutan Tuhan dan tuntutan perubahan sosial, lebih cenderung kepada pola hidup yang harmonis antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, serta kemampuan belajarnya disemangati oleh misi kekhalifahan di muka bumi.
Secara kurikuler model-model tersebut di diatas, didesain menjadi beberapa macam diantaranya adalah:
1.    Content: lebih difokuskan kepada masalah sosio cultural masa kini untuk diproyeksikan ke masa depan,.dengan kemampuan anak didik untuk mengungkapkan tujuan dan nilai-nilainya yang sesuai tuntunan tuhan.
2.    Pendidik: bertanggung jawab terhadap penciptaan situasi komunitas yang terpercaya.
3.    Anak didik: dalam proses belajar mengajar bersama-sama menghayati persepsi terhadap realitas kehidupan dan memperhatikan persepsi orang lain.[2]
C.  Pendekatan Pendidikan Islam
Pendekatan berarti proses, perbuatan, dan cara mendekati. Dari pengertian ini pendekatan pendidikan' dapat diartikan sebagai suatu proses, perbuatan, dan cara mendekati dan mempermudah pelaksanaan pendidikan. Jika dalam kegiatan pendidikan, metode berfungsi sebagai cara mendidik, maka pendekatatan berfungsi sebagai alat bantu agar penggunaan metode tersebut mengalami kemudahan dan keberhasilan.
Perwujudan strategi pendidikan islam dapat di konfigurasikan dalam bentuk metode pendidikan yang lebih luas mencangkup pendekatan (approach). Untuk pendekatan pendidikan islam, dapat berpijak pada firman allah SWT sebagai berikut.
اكَمَا اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ ءَايَآتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْلكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ
Artinya kurang lebih:
Sebagaimana ( kami telah menyempurnakan nikmat kami kepada kamu ) kami telah mengutus kepadamu rosul diantara kamu, yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu, serta mengajarkan kepadamu al-kitab dan al-hikmah, serta menganjurka kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Qs Al-baqoroh (2): 151).
Dan hendaklah ada diantara kamu golaongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung (QS Al-imron (3) :104).
Dari kedua firman allah tersebut, jalaluddin Ahmad dan Zainal Abidin Ahmad merumuskan pendekatan pendidikan islam dalam enam kategori, yaitu sebagai berikut:
1.   Pendekatan Tilawah ( Pengajaran)
Pendekatan tilawah ini meliputi membacakan ayat-ayat allah yang bertujuan memandang fenomenaa alam sebagai ayat Nya, mempunyai keyakinan bahwa semua ciptaan allah memiliki keteraturan yang bersumber dari robbal ‘alamin, serta memandang bahwa segala nyang ada tidak di ciptakanya secara sia-sia belaka. Bentuk tilawah mempunyai indikasi tafakur atau berfikir dan  tadzakur  (berdzikir), sedangkan aplikasinya adalah membentukan kelompok ilmiya, bimbingan akhir, kopetinsi ilmiyagh dengan landasan akhir islam, dan kegiatan-kegiatan ilmiyah lainya, misalnya penelitian, pengkajian, seminar, dan sebagainya.

2.   Pendekatan tazkiyah (penyucian)
Pendekatan ini meliputi menyucikan diri dengan upaya amar ma’ruf dan nahi mungkar (tindakan proaktif dan tindakan reaktif). Pendekatan ini bertujuan untuk memelihara kebersihan diri dan lingkunganya, memelihara dan mengembangkan akhalak yang baik, menolak dan menjauhi akhlak tercela, berperan serta dalam memelihara kesucian lingkungannya.
3.   Pendekatan ta’lim al-kitab
      Mengajarka al-kitab atau al-quran dengan menjelaskan hukum halal dan haram. Pendekatan ini bertujuan untuk membaca memahami dan merenungkan al-quran dan assunah sebagai keteranganya.
4.   Pendekatan ta’lim al-hikmah
Pendekatan ini hampir sama dengan pendekatan ta’lim al-kitab, hanya saja bobot dan propersi serta frekuensinya diperluas dandiperbesar.
5.   Yu’allim-kum malam takunu ta’lamun
Suatu pendekatan yang mengajarkan suatu hal yang memang benar-benar asing dan memang belum d ketahui, sehngga pendekatan ini membawa peserta didik pada suatu alam pemikiran yang benar-benar luar biasa.
6.   Pendekatan islah (perbaikan)
Pelepasan beban dan belengu-belenggu yang bertujuan memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain, sanggup menganalisis kepincangan-kepincangan ynang lemah, memiliki komitmen memihak kepada kaum yang tertindas, dan berupaya menjembatani perbedaan paham.[3]
Selain metode-metode memiliki peranan penting dalam kegiatan pendidikan Islam, pendekatan-pendekatan juga menempati posisi yang berarti pula untuk memantapkan penggunaan metode-metode tersebut dalam proses pendidikan, terutama proses belajar mengajar. Pendekatan pendidikan Islam yang seharusnya dipahami dan dikembangkan oleh para pendidik adalah meliputi:
1.    Pendekatan Psikologis
Dalam pendekatan ini tekanannya diutamakan pada dorongan-dorongan yang bersifat persuasif dan motivatif, yaitu suatu dorongan yang mampu menggerakan daya kognitif (mencipta hal-hal baru), konatif (daya untuk berkemauan keras), dan afektif (kemampuan yang menggerakkan daya emosional).[4] Ketiga daya psikis tersebut dikembangkan dalam ruang lingkup penghayatan dan pengamalan ajaran agama di mana faktor-faktor pembentukan kepribadian yang berproses melalui individualisasi dan sosialisasi bagi hidup dan kehidupannya menjadi titik sentral perkembangannya.
2.    Pendekatan sosial kultural
Pendekatan ini ditekankan pada usaha pengembangan sikap pribadi dan sosial sesuai dengan tuntutan masyarakat, yang berorientasi kepada kebutuhan hidup yang semakin maju dalam berbudaya dan berperadaban. Hal ini banyak menyentuh permasalahan-permasalahan inovasi ke arah sikap hidup yang alloplastis (bersifat membentuk lingkungan sesuai dengan ide kebudayaan modern yang dimilikinya), bukannya bersifat auto plastis (hanya sekedar menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada)
3.    Pendekatan Religi
Yakni suatu pendekatan yang membawa keyakinan (aqidah) dan keimanan dalam pribadi anak didik yang cenderung ke arah komprehensif intensif dan ekstensif (mendalam dan meluas). Pandangan yang demikian, terpancar dari sikap bahwa segala, ilmu pengetahuan itu pada hakikatnya adalah mengandung nilai-nilai ke-Tuhanan. Sikap yang demikian harus di internalisasikan (dibentuk dalam pribadi) dan di eksternalisasikan (dibentuk dalam kehidupan di luar diri pribadinya.
4.    Pendekatan Historis
Yang ditekankan pada usaha pengembangan pengetahuan, sikap dan nilai keagamaan melalui proses kesejarahan. Dalam hubungan ini penyajian serta faktor waktu secara kronologis menjadi titik tolak yang dipertimbangkan dan demikian pula faktor keteladanan merupakan proses identifikasi dalam rangka mendorong penghayatan dan pengamalan agama.



5.    Pendekatan komparatif
Yaitu pendekatan yang dilakukan dengan membandingkan suatu gejala sosial keagamaan dengan hukum agama yang ditetapkan selaras dengan siatuasi dan zamannya. Pendekatan komparatif ini sering diwujudkan dalam bentuk komparatif studi, baik di bidang hukum agama maupun j uga antara hukum agama itu sendiri dengan hukum lain yang berjalan, seperti hukum adat, hukum pidana/perdata, dan lain-lain.
6.    Pendekatan filosofis
Pendekatan filosofis yaitu pendekatan yang berdasarkan tinjauan atau pandangan falsafah. Pendekatan demikian cenderung kepada usaha mencapai kebenaran dengan memakai akal atau rasio. Pendekatan filosofis sering dipergunakan sekaligus dengan pola berpikir yang rasional dan membandingkan dengan pendapat-pendapat para ahli filsafat dari berbagai kurun zaman tertentu beserta aliran filsafatnya. Pendekatan dalam pendidikan Islam merupakan suatu cara untuk mempermudah dalam kelangsungan belajar mengajar. Sehingga tercapai tujuan pendidikan yang diharapkan dan lebih bisa menunjukkan keberhasilan pendidikan anak didik yang berdasarkan Skill yang dimilikinya.[5]

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Model adalah penerimaan secara abstrak dari fenomena. Model memberikan ruang yang cukup luas bagi pendidikan islam. Bahwa dalam islam itu sendiri telah memberikan kebebasan dalam berkarya, namun dari situ ada batasanbatasan yang harus diperhatikan seperti tidak melanggar ketentuan syara’. Dengan hal ini sistem pendidikan islam adalah sebagaimana nasihat sahabat nabi SAW, Ali bin Abi Thalib R.A. dalam sebuah hadist : “Ajarilah anak-anakmu (dengan pengetahuan) yang bukan seperti kamu pelajari, kaena mereka diciptakan utuk generasi zamn yang berbeda dengan zamanmu”. Nasihat ini memberikan pengertian bahwa mengajar adalah aktifitas dalam pemberian pengetahuan kepada seorang anak didik untuk menghadapi kehidupan yang akan datang, artinya model dalam pengajaran itu penting sebab bisa memberikan efek anak didiknya ketika ia mempersiapkan masa depannya untuk lebih baik lagi.
Pendekatan pendidikan adalah suatu proses, perbuatan, dan cara mendekati dan mempermudah pelaksanaan pendidikan. Jika dalam kegiatan pendidikan, metode berfungsi sebagai cara mendidik, maka pendekatatan berfungsi sebagai alat bantu agar penggunaan metode tersebut mengalami kemudahan dan keberhasilan.
Pendekatan pendidikan Islam yang seharusnya dipahami dan dikembangkan oleh para pendidik adalah meliputi: Pendekatan Psikologis, Pendekatan sosial kultural, Pendekatan Religi, Pendekatan Historis, Pendekatan komparatif, Pendekatan filosofis.
B.  Saran
Dari makalah yang kami buat semoga akan menjadikan manfaat bagi kita semua. Namun, penulis menyadari dari pembuatan makalah ini banyak sekali kesalahan baik dari tulisan maupun kata-katanya. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. 



DAFTAR PUSTAKA

http://zahranaa.blogspot.co.id/2017/08/model-dan-pendekatan-pendidikan-    islam.html
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1999.  Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Kholilah, Muzaki. 2010.  Ilmu Pendidikan Islam. Surabaya: Kopertais Wilayah IV.
Nata, Abudddin. 2012.  Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Umar, Bukhori. 2017.  Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:Amzah.



[1] Abudddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam,Jakarta: Kencana Prenada Media, 2012,  hal. 28-31.
[2] Muzakki dan Holilah. Ilmu Pendidikan Islam, (Surabaya : Kopertais Wilayah IV, 2010) hlm. 149

[3] Bukhori umar, ilmu pendidikan islam, (Jakarta:Amzah, 2017). Hal 182.
[4] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, 1999, h. 218
[5] http://zahranaa.blogspot.co.id/2017/08/model-dan-pendekatan-pendidikan-islam.html. Diakses tanggal 20 februari 2018


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Link ujian UAMNU 2022

 LINK UJIAN UAMNU 2022 BAHASA JAWA https://forms.gle/eoCh9WnBhXy7Bgzm7 LINK UJIAN UAMNU 2022 BAHASA JEPANG https://forms.gle/ckVdrr2QVFF8Bi1...